1 Syawal 1427 H :: Pilih Mana??
Tanggal 1 Syawal merupakan salah satu tanggal yang penting bagi umat Islam, dimana dalam tanggal ini seluruh umat islam akan merayakan kemenangan setelah satu bulan penuh menjalankan rangkaian ibadah dalam bulan Ramadhan. Pada malam 1 Syawal seluruh umat Islam akan mengumandangkan Takbir yaitu seruan Allahu Akbar (”Allah Maha Besar”) yang diserukan oleh umat Muslim untuk memuliakan asma Allah. Pada pagi harinya tanggal 1 Syawal, dirayakan sebagai hari raya Idul Fitri, dimana umat muslim akan memadati masjid maupun lapangan untuk melaksanakan Shalat Ied 2 Raka’at. Setelah Shalat Ied ini selesai kemudian akan dilanjutkan dengan acara saling memberi maaf diantara para Muslim, Sebuah rasa kebersamaan yang sangat indah untuk dijalani baik bersama Keluarga maupun masyarakat bahkan banyak orang yang rela untuk Mudik hanya untuk merasakan Lebaran bersama Keluarga.
Untuk lebaran kali ini [khususnya di Indonesia] mungkin akan sedikit terasa kurang ‘greng’ karena mungkin akan terdapat perbedaan untuk menentukan tanggal 1 Syawal 1427 Hijriyah diantara beberapa aliran Islam di Indonesia. Dimana untuk menentukan awal bulan dalam kelender Hijriyah ini ditetapkan saat terjadinya hilal [bulan sabit] yang sampai saat ini digunakan 2 metode yaitu penglihatan dengan mata telanjang [rukyah] serta perhitungan astronomi [hisab].
Majelis Ulama Indonesia menggunakan kombinasi hisab dan rukyah untuk penentuan hilal, Nahdlatul Ulama [NU] menggunakan metode rukyah, sementara Muhammadiyah dan Persatuan Islam menggunakan hisab sebagai sandaran penentuan hilal. Karena Perbedaan metode yang dipakai ini menyebabkan adanya kemungkinan perbedaan hasil penetapan kapan awal dan berakhirnya Ramadhan sebagaimana sempat terjadi pada tahun 1998 [1418 H].
Muhamadiyah sendiri sudah menetapkan tanggal 1 Syawal 1427 H jatuh pada hari Senin tanggal 23 Oktober 2006, sedangkan MUI yang mewakili pemerintah dan NU yang mempunyai pengikut terbesar di Indonesia sampai artikel ini saya tulis belum menentukan kapan jatuhnya tanggal 1 Syawal 1427 H.
Harapan saya pribadi maupun tentunya harapan banyak umat Muslim di Indonesia lainnya penetapan tanggal 1 Syawal 1427 Hijriyah ini bisa sama antara Muhamadiyah, MUI, NU maupun Persatuan Islam sehingga tidak mengurangi suasana Idul Fitri yang akan segera kita jalani. Saya kira tidak ada salahnya salah satu pihak mengalah agar tercipta suasana kebersamaaan diantara seluruh Umat Islam di Indonesia tapi jika nantinya penetapan tanggal ini berbeda tentunya kita juga harus bisa menerima dengan lapang dada dan tidak perlu mengangap bahwa salah satu aliran lebih jelek dari yang lainnya. Jika diantara umat Islam sendiri sering terjadi perpecahan bagaimana kita bisa membangun kerukunan diantara para pemeluk agama lainnya??
Akhir kata semoga saja perbedaan yang mungkin terjadi bisa kita terima dengan tulus iklas dan menjadi Rahmat bagi kita semua sehingga bisa mempertebal rasa toleransi antar umat Islam maupun antara umat Islam dengan pemeluk agama lainnya -amien-



wulan:
Saya kira umat islam di Indonesia sudah cukup dewasa untuk menghadapi perbedaan pelaksanaan shalat Iedul Fitri,jadi Insya Allah tidak akan timbul hal2 negatif bagi persatuan umat, seperti yg alex khawatirkan di atas. Amin.
October 21, 2006, 4:48 amDhika:
maksudnya ngalah tu berarti ikut lebaran senin?
October 21, 2006, 7:26 ambtw, selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan batin….
alex:
Mbak Wulan,
Tentu kita semua berharap demikian, sebuah kondisi dimana semua masyarakat mempunyai toleransi yang tinggi dan semangat persatuan untuk bersama-sama membangun negeri ini
Mas Dhika,
October 21, 2006, 2:43 pmMaksudnya mengalah adalah bahwa semua pihak [baik NU, Muhammadiyah, Persatuan Islam dsb] sebelum mengambil keputusan untuk diumumkan ke Masyarakat berunding dahulu sehingga nantinya bisa diambil 1 suara yang sama [walaupun mungkin ada salah satu pihak yang harus mengalah]. Ya karena Muhammadiyah sudah mengumumkan bahwa 1 Syawal 1427 H jatuh pada hari senin maka menurut saya lebih baik NU, Pemerintah dan beberapa aliran Islam lainnya juga berlebaran hari Senin. Tapi jika memang hal ini tidak memungkinkan untuk dilaksanakan, saya berharap untuk penentuan kalender Hijriyah kedepanya bisa diputuskan bersama sehingga hanya ada 1 suara [yang diumumkan oleh pemerintah] sehingga tidak membingungkan para umat Islam yang hanya bisa mengikuti keputusan dari para elite. CMIIW btw saya juga mengucapkan ‘Selamat Idul Fitri 1427 H Minal Aidzin Wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin’ buat mas Dhika
Hendrasa:
Saya berpendapat…untuk menentukan awal ramadhan dan awal syawal janganlah kita melihat dari mana sumbernya. Apakah itu NU, Muhammadiyah, Persatuan Islam dsb.
Tetapi lihatlah kepada ilmunya. Janganlah sampai kita ummat Islam diperbodoh oleh hal-hal diluar ketentuan/ajaran Islam. Akhirnya Indonesia yang jumlah penganut Islam terbesar di dunia, tidak mempunyai Ulama yang bisa menjadi panutan.
Kutipan dari harian BERNAMA :
Ahli Falak Saudi Umum Aidilfitri Jatuh Pada Isnin
Oleh Lena Liew
DOHA (Qatar) 21 Okt (Bernama) — Dua ahli falak terkemuka Arab Saudi mengumumkan bahawa Aidilfitri tahun ini jatuh pada Isnin, bukan Ahad.
Khaled ibn Saleh Al-Zaaq, anggota Persekutuan Sains Angkasa Arab, berkata adalah mustahil anak bulan Syawal kelihatan hari ini (Sabtu) kerana ia akan hilang sejam sebelum matahari terbenam.
“Kita sukar nampak bulan baru pada petang Isnin kerana ia akan hanya kelihatan selama 36 minit dan bercahaya pada kadar 1.90 peratus,” katanya dalam kenyataan yang disiarkan oleh akhbar berbahasa Arab Al-Eqtisadiah.
Al-Zaaq menasihati orang ramai supaya tidak terkeliru apabila melihat benda di angkasa pada petang Sabtu.
Ali Manikfan, seorang pakar mengenai pencerapan anak bulan, juga mengesahkan bahawa Aidilfitri tahun ini jatuh pada Isnin.
“Saya telah memerhati fasa kehilangan bulan pada hari-hari terakhir Ramadan. Pagi semalam (Jumaat), saya dapat melihat bulan sabit pada kira-kira pukul 8 pagi. Ia berada kira-kira 24 darjah dari matahari. Bulan sabit itu akan kelihatan hari ini (Sabtu) sebelum matahari naik. Ini merupakan tahap terakhir bulan Ramadan dapat dilihat,” kata Manikfan dalam kenyataan yang disiarkan akhbar berbahasa Inggeris Arab News, Sabtu.
“Pada pagi Isnin, anak bulan ini tidak akan kelihatan walaupun ia akan naik sebelum matahari terbit. Inilah hari bulan tidak akan kelihatan dari bumi. Ada tempat tertentu di dunia, matahari dan bulan akan terbit serentak pada Ahad,” katanya.
Manikfan juga meminta Pertubuhan Persidangan Islam (OIC) supaya menseragamkan takwim Islam agar umat Islam di seluruh dunia dapat menyambut Aidilfitri serentak.
“Aidilfitri sepatutnya disambut pada hari pertama bulan Syawal. Umat Islam di seluruh dunia kini menyambutnya pada tiga hari berbeza kerana ketiadaan takwim yang seragam,” kata pakar keturunan India itu.
Sambil menggesa umat Islam supaya menggunakan kaedah moden bagi melihat anak bulan, Manikfan berkata: “Islam adalah agama paling maju dan bersifat saintifik. Adalah mustahil untuk mempercayai bahawa Nabi Muhammad (S.A.W) akan mengarahkan pengikutnya pada zaman sains dan teknologi ini mencari bulan baru dengan mata kasar, sedangkan tarikh lunar dan solar boleh ditentukan lebih awal menggunakan perkiraan berdasarkan ilmu sains.”
– BERNAMA
October 22, 2006, 3:21 amalex:
Mas Hendrasa,
Saya setuju sekali dengan quote dibawah ini :
Itulah kadang-kadang yang membuat kita merasa kurang yakin atas keputusan yang kita ambil karena ada perbedaan keputusan yang diambil oleh para ulama, apalagi orang yang awam tentang ilmu ini [menentukan tanggal hijriyah] mereka hanya bisa mengikuti apa kata ulama yang mereka jadikan panutan dan repotnya lagi ada banyak versi mengenai hal ini.
October 22, 2006, 4:33 amUntuk di Indonesia sendiri saya harapkan bahwa untuk kedepannya hanya pemerintah yang mengumumkan secara resmi awal bulan Hijriyah [dari hasil musyawarah dengan para ulama baik NU, Muhammadiyah dsb] sehingga nantinya hanya ada satu suara yang disampaikan ke masyarakat sehingga tidak membuat mereka bingung. Saya sendiri kurang sependat dengan para ulama yang mengatakan bahwa perbedaan itu adalah Rahmat karena menurut saya pribadi kalau sesuatu hal tersebut jelas sekali dasar hukumnya kenapa harus berbeda?? Lalu jika berbeda mana yang benar??
Untuk saya sendiri lebih cenderung untuk mengikuti keputusan pemerintah yang menurut saya lebih berhak untuk mengumumkan hal ini, hal yang sama juga dilakukan oleh masyarakat di sekitar tempat saya tinggal. So, wait and see what’s the goverment say about it
Ardhi Ruhtono:
Saya memang sering merasa prihatin dengan adanya berita yang tidak dimusyawarahkan dulu sebelum disiarkan,karena pasti ada dampak yang belum tentu baik untuk kebersamaan,seperti halnya yang sudah beredar saat ini dari Muhamadyah mengenai penetapan hari 1 Syawal. Apa yang saya tangkap hari ini jadi bertanya-tanya mengenai kapan yang sebenarnya hari 1 syawal itu, dan mungkin bukan saya saja yakin banyak yang lainnya bertanya seperti itu. Ini untuk kepentingan kebersamaan apalagi dalam hal keagamaan, jadi sebaiknya berita itu dimusyawarahkan dengan pemerintah dan biarlah pemerintah yang menyiarkannya. Masalah penetapan waktu dengan menggunakan cara-cara yang berbeda sebaiknya desepakati untuk keputusan akhirnya, saya yakin kalau kita bersatu dan bersama-sama untuk kebaikan akan lebih baik. Semoga.
October 22, 2006, 12:11 pmFara:
Masalah perbedaan dalam penentuan 1 Syawal sebenarnya bukan masalah yang sangat krusial, tetapi sebagai bentuk manifestasi kebersamaan umat Islam di Indonesia alangkah baiknya jika semua pihak duduk bersama membicarakan hal ini. Memang benar perbedaan merupakan suatu rahmat, tetapi meletakkan perbedaan tersebut untuk tujuan persatuan akan lebih utama.
October 22, 2006, 12:29 pmYang jelas hari raya Idul Fitri tetapi 1 Syawal….
Minal aidin wal fa idzin
ferry:
Imam bisa menghapuskan perbedaan dalam hal ini,
October 22, 2006, 1:33 pmKapan yaa Umat Islam seluruh dunia bisa bernaung lagi dalam satu daulah khilafah yang dipimpin satu IMAM…
Chairunas:
Memang sudah sering terdapat perbedaan pendapat antara NU, Muhamadia, dan MUI. Jadi, ditelinga masyarakat sudah tidak jadi hal yang aneh. Walaupun ada fatwa MUI yang menegaskan kalau 1 Syawal itu ditentukan oleh pemerintah khusunya menteri agama yang akan disidangkan tanggal 28 Ramadhan tiap tahunya untuk menentukan kapan 1 syawal, dan umat islam di NKRI “WAJIB” mentaati menteri agama. Tapi ada dikalangan masyarakat yang beranggapan kalau Fatwa ini tadak wajib “DI TAATI” karena pemerintahan di NKRI Bukanlan Pemerintahan “ISLAM” jadi tyidak berwenang untuk menentukan kapan 1 Syawal. Jadi kalau terdapat perbedaan harusnya pemerintah dapat bersikapdewasa untuk menyikapi perbedaan tersebut. Dan sebaiknya masyarakay juga bersikap demikian. Dan walaupun terdapat perbedaan kita harus tetap menjaga persatuan dan kesatuan umat islam.
October 22, 2006, 1:55 pmlola:
As wr wb. Kalau Ied sudah ditentukan di Arab hari Senin, apakah bagian bumi yang lain otomatis juga Senin, ataukah tergantung posisi bulan setempat? Saya pernah baca di situs detik.com, salah seorang pemuka agama mengatakan, apabila di timur sudah menentukan kapan jatuhnya Ied, bagian bumi yang barat mengikuti saja.
October 22, 2006, 2:53 pmlola:
Btw kalau saya mau solat Ied hari Senin, dimana saya bisa dapat info mesjid mana di Jakarta Selatan / Depok yang menyelenggarakan soalt Ied pada hari tersebut?
October 22, 2006, 3:01 pmahmed:
assalamualaikum wr.wb
October 22, 2006, 6:34 pmsaya pribadi cenderung kepada apa yang telah ditetapkan oleh muhammadiyah.saran saya agar pemerintah,mui,muhammaduyah dan apapun namanya secara bersama2 membuat keputusan bersaama dalam menentukan jatuhnya 1 syawal 1427 H.
alex:
Mas Ardhi Ruhtono, mbak Fara dan mas Ferry
Tentunya untuk kedepannya kita berharap hal ini bisa direalisasikan dimana untuk penetapan 1 Syawal 1427 H bisa dirayakan berbarengan seluruh umat Islam. Tadi saya baca tulisan di http://222.124.164.132/article.php?sid=100790 [halaman koran Kedaultan Rakyat] yang memberitakan seperti yang saya qoute dibawah ini :
Kita berharap saja untuk kebersamaan umat semoga hal ini tidak cuma hanya menjadi wacana
Mas Chairunas
Hal itulah yang kita sesalkan, ada banyak pihak yang merasa paling benar dan paling wajib untuk mengumumkan kapan mulainya bulan Ramadhan ataupun bulan Syawal sehingga masyarakat awam menjadi bingung menentukan mana yang benar diantara pilihan tersebut. Kalau saya pribadi lebih baik untuk penentuan awal Ramadhan maupun Syawal diumumkan oleh Pemerintah. Saya sendiri juga tidak anti perbedaan dan kita juga harus menghormati orang yang berbeda keyakinan dengan kita dalam menentukan awal bulan Ramadhan maupun Syawal, tapi jika perbedaan itu bisa disamakan untuk kebaikan umat kenapa harus berbeda? Saya kira dengan kebersamaan kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik
Mbak Lola
mungkin ada rekan-rekan lain yang tahu??
Hal yang sama juga saya baca di harian Kedaulatan Rakyat hari ini yang bisa dibaca lewat http://222.124.164.132/article.php?sid=100790 Kebetulan saya tinggal di JOGJA mbak, jadi saya sendiri kurang tahu jadwal sholat Ied di daerah Depok / Jakarta Selatan
Mas Ahmed
October 22, 2006, 6:36 pmKalau saya pribadi lebih setuju kalau Pemerintah yang mengumumkan hal tersebut bukan Muhammadiyah, NU, maupun organisasi Islam lainnya sehingga kita bisa bersama-sama mengawali dan mengakhiri ibadah puasa Ramadhan
djohan:
pemilihan hari 1 syawal adalah masalah keyakinan jadi tak usah diperdebatkan atau disatukan. justru dari sini kita sadar bahwa pada dasarnya kita memang berbeda, di samping banyak hal kita sama. perbedaan adalah anugerah. dengan perbedaan ini kita akan stabil (pinjam kaidah dalam ilmu lingkungan: sistem akan stabil jika dibangun dari subsistem yang bervariasi). selamat idul fitri 1427 h.
October 22, 2006, 7:12 pmHendra:
Perbedaan itu memang Indah, tetapi akan buruk jadinya jika kita selalu dalam keadaan berbeda, artinya egois. Memang perbedaan itu adalah salah satu Karunia Allah SWT, tetapi tidak dalam segala hal kita harus berbeda. Justru perbedaan untuk mencapai kesatuan yang sempurna. Allah berfirman ” Wahai umat Islam seluruh dunia, bersatulah !Niscaya kamu akan menang dunia akhirat.” Kemenangan dicapai dengan persatuan. Wahai para pemimpi-pemimpin kami, apakah anda lupa dengan firman Allah SWT tersebut? Pantas kalau kita( rakyat ) selalu ribut dan negara kacau, kemungkinan karena para alim ulama kita tidak dalam keadaan bersatu. Kita ingat pada jaman Para Wali dahulu. Walaupun mereka berada dalam wilayah yang berbeda dan jauh satu sama lain, tetapi mereka selalu dalam persatuan “Wali Songo”. Tidak ada yang merasa pintar di antara mereka. Mereka selalu mengadakan musyawarah. Maka dari itu mereka sukses dalam menjalankan tugas-tugasnya.
October 22, 2006, 7:44 pmMengenai penentuan 1 Syawal, apa salahnya kita menggunakan teknologi yang kita ciptakan. Jadi kita tidak perlu lagi melihat hilal dengan mata telanjang. Karena kondisi alam tidak lagi seperti kondisi pada jaman Rasul. Dan juga teknologi itu adalah pemberian Allah swt kepada kita. Serta diwajibkan oleh Allah swt kepada manusia untuk berpikir, berkarya dan mempelajari ilmu pengetahuan yang semua ini adalah untuk ibadah kepada Allah swt. Seperti halnya dahulu orang ber-adzan hanya menggunakan mulut yang dilakukan di atas menara masjid, tujuannya supaya terdengar luas. Tetapi sekarang dengan ditemukannya alat pengeras suara, lebih sempurna lagi dibandingkan dahulu.
Minal aidin wal fa idzin
murjani:
Kalau saya lebih memilih mengikuti umara atau lebih memilih ikut orang kebanyakan
October 22, 2006, 8:01 pmJafar:
Dari detik.com, Pemerintah sudah menetapkan 1 Syawal 1427 H jatuh pada hari selasa, 24 Oktober 2006.
October 22, 2006, 9:04 pmimron:
1. Pemerintah punya kepenting penetapan kapan libur hari raya.
2. Ormas punya kepentingan mencari pembuktian kalimat “Syahida” dari faman syahida minkum as-Syahra, fayashumhu.
3. umat yang berbeda-beda ini punya kepentingan sholat id bersama-sama.
kmentarku:
October 22, 2006, 9:40 pm1. Jangan sampai ijtihad ubudiyah masuk dalam ranah kepentingan politik.
2. Kita punya fasilitas: saling maaf memaafkan.
3. Perbedaan itu menjadi rahmat jika kita sudah sekuat tenaga mencapai dasar atas tindakan/keputusan kita. Saya tawarkan kpd forum untuk mencermati kalimat yang mirip dalam bhs Arab sbb: Syahida, ra’a, ‘Arafa. Kompetensi kita menuntut ilmu. Wajib hukumnya, kalau tidak dilaksanakan dosa lo. Yang penting bagi kita, kita tahu bahwa apa yang kita perbuat ada dasarnya. jika tidak, di alam hisab, kita disuruh mencari pengetahuan atas apa yang kita perbuat itu. Wallahu a’alam bishowab.
4. Kalau saya, akan pilih yang berdasarkan persaksian model rukyah. mata dan segenap badan kita adalah nota bagi perbuatan kita. mungkin ini saya menafsirkan keteguhan Ibu Taimiyah dan Ibnu Abdul Wahab bahwa hakikat itu harus dalam kenyataan empirik, bukan dalam pemikiran (al-haqiqah fi al-a?yan, la fi al-adzhan). Kalau mau ditelusuri lagi akarnya, maka akar falsafahnya adalah bahwa apakah kebenaran itu bersifat ide seperti yang didukung oleh kaum idealisme atau realitas yang dianut oleh kaum realisme.
5. Maafkan aku saudara-saudara. Salam
Saya Lebaran hari Senin 23 Oktober 2006 « Sandy’s Blog:
[...] Ada artikel menarik tentang perbedaan ini yang ditulis oleh Alex Budiyanto di blog nya, demikian juga dengan komentar-komentar yang ada. Semoga dapat memberikan pemahaman yang lebih tentang permasalahan ini. Saya pribadi masih cukup awam sehingga masih kurang pantas untuk berkomentar terlalu jauh. Yang jelas saya besok senin berlebaran bersama keluarga Other related articles: Big Mosques, Grounds Readied for Eid Prayer Mengapa Berbeda Hari antara Indonesia dan Arab Saudi Penetapan 1 Syawal, Kenapa Beda? Idul Fitri Ganda dan Egoisme Kita Perbedaan Pendapat dalam Penentuan Awal Syawal oleh H Asjmuni Abdurrahman [...]
October 22, 2006, 9:42 pmsandynata:
saya lebaran senen besok
October 22, 2006, 9:43 pmDudit:
Saya sangat prihatin dng perbedaan ini, semua mengatakan perbedaan adalah rahmat dan yg diambil adalah benar, kenapa para ulama lebih mementingkan kepentingan golongan atau organisasinya daripada kepentingan umat seluruhnya? Tolong para ulama cari solusi untuk biar tdk terjadi 2 pendapat yang berbeda.ini sangat penting dan akan membawa akibat di masyarakat umumnya dan jadi sumber perpecahan dan ketidaknyamanan dalam hidup satu agama.
October 22, 2006, 9:56 pmNabiel:
Mohon informasi tempat sholat Ied hari Senin, Terima kasih
October 22, 2006, 10:07 pm1 Syawal 1427 H at AlexBudiyanto.Web.ID:
[...] Archives « 1 Syawal 1427 H :: Pilih Mana?? [...]
October 22, 2006, 11:25 pmabah:
PERBEDAAN ITU RAHMAT…RAHMAT YANG MANA YA??.KITA MEMANG TIDAK MAU MERIBUTKAN SENIN ATAU SELASA (MALAS RIBUT-RIBUT MELULU,NDAK ADA PENYELESAIANNYA).
TAPI UNTUK IEDUL FITRI INI, MEMANG SEHARUSNYA KAUM MUSLIMIN BERSATU.ORMAS APAPUN ITU HANYA BERHAK MEMBERIKAN WACANA TENTANG WAKTUNYA.TAPI KEPUTUSAN AKHIRNYA TETAP KEPADA PEMERINTAH DAN LEMBAGA YANG TELAH DITUNJUK. KALAU SEMUA TAAT KEPADA PEMERINTAH, YAKIN SEMUA KAUM MUSLIMIN IEDUL FITRI PADA WAKTU YANG SAMA.
AKU PERNAH BERTANYA KEPADA SEORANG USTADZ YANG PERNAH BELAJAR DI MADINAH. TERNYATA MEMANG INTINYA, PERSOALAN UMAT BEGINI ADALAH URUSAN PEMERINTAH.
MARI TAAT KEPADA PEMERINTAH. KALAU BUKAN KITA, SIAPA LAGI.
LUPAKAN MUHAMMADIYAH DENGAN TARJIHNYA, LUPAKAN NU DENGAN HILALNYA, DAN LUPAKAN PERKATAAN ORMAS LAINNYA DSB. MEREKA BOLEH BERPENDAPAT DAN BERWACANA, TAPI AKHIRNYA TAAT KEPADA PEMERINTAH. DAN INI ADA DALILNYA JUGA LOH.
SEKALI LAGI MARI TAAT KAPADA PEMERINTAH, IEDUL FITRI HARI SELASA.
October 22, 2006, 11:39 pmMoh. Fajrul Hidayat:
Assalamu ‘alaykum buat semua…
Saya juga agak bingung dengan penetapan 1 Syawal 1427H, karena jarang sekali Ramadhan 30 hari. Apalagi di Arab Saudi dan Muhammadiyah sudah menentukan bahwa Eidul Fitr jatuh pada hari Senin. Akhirnya, setelah kurang yakin dengan pengumuman Menteri Agama RI, saya cari info di internet sehingga saya pun mampir ke blog ini.
Di situs lain yaitu http://hilal-sighting.com/ secara astronomy menyebutkan bahwa Idul Fitri jatuh tidak mungkin jatuh pada hari Senin. Sudah seharusnyalah bila hilal tidak terlihat maka kita harus menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari. Menurut saya, semesetinya utamakan rukyat terlebih dahulu, bila hilal tidak terlihat maka baru kita gunakan hisab dengan menggenapkannya menjadi 30 hari.
Ada yang berpendapat bahwa Pemerintah Arab Saudi memutuskan 1 Syawal jatuh pada hari Senin lebih karena masalah politis. Mereka sudah terlanjur memutuskan bahwa Ramadhan jatuh pada tanggal 23 September 2006M, maju sehari dibandingkan dengan RI. Bila mereka memutuskan 1 Syawal jatuh pada tanggal 24 September, maka Ramadhan mereka malah jadi 31 hari.
Jadi, kalau saya pribadi ikut Depag RI aja.
Wassalam
October 23, 2006, 1:06 amorang_hilang:
hahahhahhahha………..
lebarannnnn……….. kalo saya sehh rabu aza deyh solat eid sendiri aza deyh……. bingung2 mikirin perbedaan…… udah tambahin aza puasanya sebulan lagi……… biar pahala kita tambah bunyakk…….
thanx…kawan wakan ku.
October 23, 2006, 3:06 amalex:
Mbak Nabiel,
Saya tadi baca informasi sholat Ied Hari Senin yang ada di Detik.Com
Mas Imron,
Saya setuju sekali dengan pernyataan anda yang saya quote dibawah ini :
Semuanya,
October 23, 2006, 5:26 amTentu kita punya keyakinan sendiri-sendiri yang mempunyai dasar pemikiran yang mungkin berbeda dengan orang lain. Tapi menurut saya untuk kebersamaan Umat tidak ada salahnya kalau untuk kedepannya biarkan hanya Pemerintah yang mengumumkan awal ataupun akhir bulan Hijriyah. Sehingga tidak membuat masyarakat awam menjadi bingung dan sebaiknya ormas-ormas Islam yang ada tidak mendahului pemerintah untuk mengumumkan hal tersebut, bahkan lebih baik lagi kalau ormas-ormas Islam tersebut mendukung apapun keputusan pemerintah. Jangan sampailah Ibadah dicampur dengan kepentingan Politik. CMIIW
Akhir Kata ‘Selamat Idul Fitri 1427 H, Minal Aidin Wal Faidzin Mohon maaf lahir dan bathin”
Dwi Santoso Adi:
Assalamu’alaikum wr. wb
Buat saya pribadi tidak akan pernah merasa bingung dengan kondisi perbedaan penetapan 1 Syawal 1427 H. Muhammadiyah sendiri sebagai suatu organisasi islam yang besar di Indonesia memiliki ahli-ahli yang berkompeten di bidangnya. Demikian juga dengan ormas islam lainnya. Sedikit masukan dari saya, mengutip suatu hadits :
“bulan ramadhan itu kadang 29 hari atau 30 hari. jika terjadi keraguan, maka genapkanlah bilangannya”
Wallahualam bishawab.
Selamat Idul Fitri 1427 H. Taqobalallahu minna wa minkum. Minal “aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.
October 23, 2006, 10:20 am1 syawal 1427 hijriyah at pria.purnama:
[...] interesting sekarang atau besok? atau malah kemarin? kalo dipikir-pikir dari dulu udah sering kejadian kaya begini. mas alex mengulasnya disini, lengkap, jelas dan banyak yang ikut angkat bicara [...]
October 23, 2006, 10:40 amUntara:
Taqabalallahu Minna Wa Minkum Taqabal Yaa Kariim
Saya ikut ber iedul fitri hari ini 23 oktober
Sebenernya gampang dan logis aja kalau mau menetapkan 1 Syawal … Kita ngikut aja orang orang yang ber iedul fitri di depan Ka’bah .. di Mekkah Sana …
Lucu juga kalau membayangkan kita lebarannya telat atau lebih dulu ketimbang Mekkah .. lha wong sehari hari kita shalat menghadap ke Mekkah? .. ini hanya pemikiran simple … CMIIW!
ada yang bilang taatlah kepada pemerintah? OK! Tapi pemerintah yang mana dulu? pemerintah yang seperti apa dulu ….
saya hanya akan taat kepada pemerintah yang adil dan mengayomi warga negaranya … apakah pemerintah indonesia sudah seperti itu? masih belum saya kira …
jadi saya ngikut Ulama aja …
Alhamdulillah Muhammadiyah dan PW NU Jatim bener bener kompak tahun ini …. (baca di detik.com)
so kita lihat aja iedhul adha besok …. kalo masih beda berarti pemerintah bener bener konsisten dengan keputusannya tentang 1 syawal tahun ini! …
masalahnya entar kalau SAMA …. heheh .. pasti ada yang salah …
wallahu alam bisshawab
PS:
October 23, 2006, 10:46 amjangan ngomong perbedaan adalah rahmat .. geli kuping saya
perbedaan di indonesia mah adalah ego dan kepentingan golongan ….
Rudi Ismail - 085217516008:
dooh, capeee dech, tiap tahun beda selalu untuk urusan idul fitri.
October 23, 2006, 12:33 pmada gak sih, pemimpin yang bisa menegakkan satu di negri tercinta indonesia ini ??
lola:
Selamat Iedul Fitri 1 Syawal 1427 H. Semoga Iedul Fitri kali ini kita menjadi hamba2 ALLAH yang meningkatkan takwa kepada Nya, amiiin…. Saya solat Ied tgl 23 Oktober di Al Azhar. Saya menghormati yang solat Ied 24 Okteber, karena masing2 ada dasar2 yang bisa dipertanggung jawabkan oleh pemimpin2 kita. Yang saya pikir masih kurang masuk akal adalah : Solat Ied tgl 24 tapi tidak puasa tgl 23, saking bingung nya, mau puasa takut haram, mau solat Ied takut masih Ramadhan. Hehehe… kalo saya usul, kalau lain kali masih beda, harus konsisten dong dengan keyakinan. Kalo Ied tgl 24 ya tgl 23 harus tetap puasa. OK deh saudara2ku, selamat merayakan kemanangan. Makasih bang Alex untuk mengakomodasi suara kita2.
October 25, 2006, 11:02 amalex:
Mas Dwi, Mas Untara, Mas Rudi dan Mbak Lola
October 26, 2006, 5:47 pmSaya pikir kita tidak akan selesai memperdebatkan hal ini [1 Syawal 1427 H], biarlah hal ini kita jadikan pengalaman buat kita semua agar hal ini [kebingungan umat] tidak terjadi lagi di masa yang akan datang dan semoga saja Pemerintah maupun pihak lainnya bisa mengerti tentang hal ini [kebingunan umat] sehingga mempunyai solusi yang baik buat kita semua. -amien-
Edi HS:
Taqabbalallohu minna wa minkum.
Saya setuju pemerintah yang menentukan secara resmi kapan tanggal 1 syawal. Tapi harus dilakukan secara adil. Misalnya untuk tahun ini pemerintah condong ke NU yang berpedoman kepada rukyat, maka tahun depan (karena kabarnya akan terjadi perbedaan lagi) harusnya condong kepada Muhammadiyah (hisab wujudul hilal).
Kenapa saya usulkan demikian ? Karena dalam kasus perbedaan ini Pemerintah membenarkan dua-duanya, keduanya diakui mempunyai dasar naqli dan ‘aqli yang kuat. Dipaksa disatukan agak mustahil, karena yang satu bilang rukyat adalah ta’abudi, yang satu bilang hanya salah satu metode saja.
Sekedar info, 1 syawal 1427 ini diseluruh dunia dilaksanakan dalam 4 hari yang berbeda dan semua berdasarkan rukyat. Mulai dari Nigeria pada hari Ahad 22 Oktober, Kuwait plus 31 negara lainnya 23 okt, Indonesia plus 21 negara lainnya 24 okt dan terakhir India dan Pakistan pada hari Rabu 25 okt. Luar biasa. Silahkan buka http://www.icoproject.org/icop/shw27.html#day. Bandingkan dengan kalender syamsiah (masehi) walaupun dibelah oleh garis waktu, tapi tanggal-hari di semua negara sama.
Menggaris bawahi yang dikutip Sdr. Hendrasa dari Harian Bernama tentang komentar Ali Manikfan. quote : “Sambil menggesa umat Islam supaya menggunakan kaedah moden bagi melihat anak bulan, Manikfan berkata: “Islam adalah agama paling maju dan bersifat saintifik. Adalah mustahil untuk mempercayai bahawa Nabi Muhammad (S.A.W) akan mengarahkan pengikutnya pada zaman sains dan teknologi ini mencari bulan baru dengan mata kasar, sedangkan tarikh lunar dan solar boleh ditentukan lebih awal menggunakan perkiraan berdasarkan ilmu sains.â€
October 30, 2006, 7:46 amTidak bisa dibayangkan seandainya kita melakukan hal sama dalam menentukan waktu sholat, apa kita harus bersusah payah juga melihat matahari terbenam saat kita akan sholat maghrib ?
dody nur andiryan:
Ass. Wr Wb.
Kalu boleh saya urun rembug, saya sepakat dengan mas Alex, bahwa meskipun NKRI bukan negara Islam, tapi ini bukan negara sekuler, maka saya mendukung jika pemerintah memberikan pengumuman, bagaimanapun masyarakat awan (floating mass) perlu bimbingan….
selain itu saya melihat di Indonesia terdapatnya perbedaan penetapan hari raya (idul fitri dan Idul Adha) ada kecenderungan politis…
Sebab, pasca keluarnya NU dari Masyumi, sekitar tahun 1950_an, perbedaan semakin mencolok saja…NU dulu keluar dari Masyumi, salah satu alasan politisnya adalah kekecewaan karena jatah Kursi Menteri Agama, yang harusnya untuk NU, ternyata tidak diberikan (masyumi saat itu terdiri dari NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, dll)….
Semenjak itu, seperti sudah menjadi sebuah konvensi ketatanegaraan, maka ada semacam pembagian kursi kementrian antara dua ormas besar Islam: Kursi Menteri Agama dijatahkan untuk NU (yang memang secara organisatoris lebih kultural dan tradisional), sementara kursi menteri pendidikan diberikan pada Muhammadiyah (yang memang modern dalam pengelolaan lembaga2 pendidikan)…
Maka semenjak itulah, nuansa “perbedaan: semakin mencolok….Perbedaan2 penentuan hari raya semakin tampak pasca keluarnya NU dari Masyumi. (ini jika dilihat dari sudut pandang ilmu politik)
Sayangnya pemerintah kurang bisa bersikap tegas dalam menyikapi hal ini….
Seharus (seperti MAS Alex katakan) Pemerintah bisa memfasilitasi perbedaan, dan merangkum perbedaan itu dengan baik….
bukan apa2, namun coba direnungkan dulu: apa komentar kaum Non Islam dengan fenomena ini??? Jika perbedaan antar negara, Ok lah, tidak apa2. namun jika yang terjadi adalah perbedaan intern dalam negara mengenai penentuan kapan hari raya, saya rasa ini jadi masalah sendiri….
Pemerintah (ulil amri) sangat berperan dalam hal ini…
Masalah hisab, rukyat, hisab bil rukyat, atau rukyat wal hisab, atau apalah metodenya, mau pake mata tekanjang, pake alat canggih, dsb… Lha wong namanya metode, pasti berbeda2 persepsinya. aPAlagi zaman modern-sains dan teknologi, saya pikir semakin berkembang teknologi, maka akans emakin banyak lah cara (metode) yang dipakai…
TAPI yang paling penting adalah musyawarah terlebih dahulu, dalam musyawarah itu ada yang namanya saling tabayun, saling mendengar, saling mengkritik, dan mempertahnkan pendapat, namun kepentingan UMAT jangan sampai dikalahkan oleh egoisme SEKTARIAN….
Pemerintah juga jangan terlalu MEMBELA ormas tertentu saja….namun lebih adil lagi….
Namun, saya sangat salut sekali, perbedaan yang terjadi dalam penetuan hari raya, di Indonesia dapat disikapi dengan bagus sekali….
sebenarnya Indonesia adalah bangsa yang sangat demokratis didunia ini, hanya saja mudah terprovokasi, mudah mengambil jalan pintas, dan silau terhadap western…
semoga ukhuwah tetap terjaga dengan baik…amin….
Wass. Wr. Wb.
October 31, 2006, 10:11 pmKajeka:
Saya setuju jika NU dan Muhammadiyah berbeda terus. saya setuju islam berpecah belah. saya setuju para pemimpin islam berseteru. mengapa? karena “ANEH/Asing”, jika umat islam di negara kita saat ini bersatu dan rukun. Ingat sepanjang perbedaan itu tidak merugikan “kelompok” masing-masing itu tidak dosa, walaupun masyarakat “dungu” lah korbannya. mari belajar untuk tidak menjadi orang dungu kawan.
September 9, 2007, 10:59 pmAlexBudiyanto.Web.ID » Blog Archive » Ramadhan 1428 H @ Ibu Kota:
[...] tidak terasa satu tahun menurut penanggalan Islam berlalu dengan cepat. Besok [semoga tidak ada perbedaan pendapat lagi] di tahun 1428 H ini saya akan melaksanakan ibadah puasa yang pertama kalinya di Ibu Kota. Tidak [...]
September 12, 2007, 2:45 pmisbachul:
kita msh ribut kapan bulan baru muncul. mbok yaho NU dan Muhammadiyah menyatukan perbedaan. itu hanya ilmu manusia saya yakin bisa disatukan asal saling mengalah utk kepentingan rakyat indonesia. kita tdk mau dipolitisir ini islam kultural krn melihat bulan dgn mata telanjang, ini islam modern menentukan bulan dgn perhitungan sedetil-detinya. sdh jelas to hal itu seakan dibedakan. sdhlah kita gak mau tahu yg penting para ilmuwan islam cari metode yg bisa menyatukan BANGSA INDONESIA kagak perduli dari NU kek, Muhammadiyah kek, Persis kek, Al-irsyad kek, Al-Azhar kek, DI/TII kek ( eh..boleh gak sih). anda mgkin gak melihat perbedaan itu ditingkat atas, tp jelas terasa di masyarakat tingkat bawah.wong kita sejatinya sdh beda mbok yaho jgn terus dibeda-bedakan.Kita kemarin sdh salah, sdh jatuh di lubang apakah kali ini akan terjerembab di lubang yg sama. Emang kita lebih bodoh dari keledai.
October 5, 2007, 2:14 pmAlexBudiyanto.Web.ID » Blog Archive » Idul Fitri 1428 H: Pilih Mana Lagi??:
[...] seperti pada tahun sebelumnya dan seperti yang pernah saya tuliskan juga di blog ini pada alamat INI, lebaran tahun ini kemungkinan besar akan berbeda lagi. Ada yang sudah mengumumkan 1 Syawal 1428 H, [...]
October 11, 2007, 10:37 am