Cerita Satu Tahun Lalu [2]

Satu Tahun Gempa JogjaSetelah tertunda dua hari, akhirnya hari ini saya bisa menulis lagi lanjutan cerita tentang refleksi satu tahun gempa, yang telah saya tulis sebelumnya. Sedikit mengingatkan kembali, Gempa 27 Mei 2006, telah membuat kepedihan yang mendalam bagi masyarakat daerah Bantul pada khusus-nya, dan masyarakat JOGJA pada umum-nya. Bahkan kepedihan ini, sampai sekarang masih dirasakan oleh masyarakat Bantul. Masih banyak “pe-er” bagi pemerintah, untuk membuat kota dengan slogan “PROJOTAMANSARI” ini bangkit lagi. Masih banyak, orang-orang tinggal di “gubug” bambu, karena belum mampu untuk membuat rumah lagi, masih banyak bangunan-bangunan sekolah yang belum layak untuk dikatakan sebagai “gedung sekolah”, dan tentu saja masih banyak orang-orang yang jadi penganguran karena bencana dasyat ini.

Sunat DanaSaya sendiri merasa “miris” jika melihat kondisi yang ada dalam birokrasi kita ini, bayangkan saja, uang yang harus-nya mereka [baca: korban bencana] terima, “disunat” oleh oknum-oknum yang duduk di biro crazy “birokrasi”. Belum lagi janji-janji pemerintah sendiri, yang sampai saat ini belum terealisasi. Tentu kita masih ingat, canda-an angin surga yang dihembuskan oleh Jusuf Kalla, sehabis gempa terjadi, dan entah kemana angin itu sekarang berhembus, tapi yang pasti angin itu belum bisa “dihirup” oleh para korban bencana, yang masih kedinginan di gubug bambu-nya.

Sekarang, kita tinggalkan sejenak, cerita tentang penderitaan korban gempa, yang menunggu janji palsu dari pemerintah. Disini, saya ingin melanjutkan cerita saya yang lalu, yang masih belum selesai. Dan dibawah inilah lanjutan cerita tersebut.

Setelah mendapatkan kepastian bahwa ujian diundur, sampai batas waktu yang belum ditentukan, maka saya menjenguk beberapa teman saya, untuk mengetahui keadaan mereka. Alhamdulilah, tidak ada satu-pun teman saya yang terkena dampak secara fisik, mereka hanya mengalami trauma, dan belum berani tinggal di dalam rumah. Karena listrik belum menyala, dan kami belum tahu kabar dampak dari gempa tersebut, maka kami hanya bercerita tentang pengalaman kami masing-masing.

Dampak GempaSore hari, sekitar pukul 13.00 WIB, Listrik baru menyala, Ketika saya lihat siaran TV jumlah korban diperkirakan berjumlah 100-an, dan semakin bertambah banyak, seiring waktu berjalan. Kurang lebih pukul 19.00 WIB, jumlah korban sudah mendekati 1000-an, jumlah jiwa yang sangat banyak. Selain itu, pemandangan pilu rumah-rumah yang roboh, tangisan anak kecil, dan banyak-nya orang yang tergeletak di serambi-serambi Rumah Sakti sangat menyayat hati.

Malam itu, kami sekeluarga tidak bisa tidur, selain ketakutan akan gempa susulan, kami juga mengikuti perkembangan berita lewat siaran Televisi. Pagi hari-nya, pemuda desa saya berkumpul, kami membicarakan tentang apa yang bisa kami bantu, untuk korban gempa tersebut. Dari pembicaraan bersama, akhirnya kami sepakati, bahwa kami akan mengirim-kan bantuan berupa makanan siap saji, tenda, penerangan dan air minum, dengan pertimbangan bahwa, masyarakat disana tidak bisa masak karena rumah mereka hancur, diperparah lagi dengan hujan yang mengguyur, dan kegelapan di malam hari.

Makanan siap saji tersebut, kami masak mulai sekitar pukul 08.00 WIB dengan bantuan ibu-ibu PKK, makanan siap saji sejumlah 500 bungkus tersebut, selesai dimasak kurang lebih pukul 18.00 WIB. Malam itu juga, dengan di-iringi hujan rintik-rintik, kami mengantarkan makanan, dan perlengkapan lain-nya dengan menggunakan empat mobil.

Help JogjaTujuan pertama kami adalah desa Pundong, sebuah desa yang terkena dampak paling parah [menurut berita waktu itu]. Kami tiba di desa tersebut kurang lebih pukul 19.30 WIB, sedikit terlambat karena di perjalanan, ada salah satu mobil yang ban-nya bocor. Sampai disana, pemandangan-nya sangat memilukan sekali, banyak orang tidur di pinggir jalan, bahkan ada yang tidur di komplek kuburan. Hal ini diperparah dengan hujan yang mengguyur dan gelap-nya malam.

Setelah selesai membagikan makanan, dan barang-barang lain, kami kemudian pulang ke-rumah. Kami sampai dirumah sekitar pukul 01.00 WIB. Setelah kami bangun pagi esok hari-nya kami masih merasa harus membantu mereka lagi, akhirnya selama beberapa hari berturut-turut, kami mengantarkan makanan bagi para korban gempa.

Mungkin itu saja dulu cerita untuk hari ini, dan tunggu saja cerita selanjut-nya. Yang pasti dari kegiatan yang kami lakukan diatas, kami benar-benar tahu bagaimana kesulitan hidup mereka, bagaimana mereka berjuang melawan ganas-nya alam, dan bagaimana mereka harus berbohong demi kelangsungan hidup keluarga atau-pun kelompoknya. Ya, itulah hidup manusia, dimana tidak semua bisa berjalan separti apa yang kita inginkan.

3 Comments

  1. Yan Arief:

    mmm.. aku juga baru nulis cerita setahun lalu, ternyata ceritanya panjang … lom selesai neh..

  2. zam:

    kalo inget hal itu, jadi emosi lagi saya, lex..

    pemerintah kebanyakan janji.. :(

    lain di mulut, lain di lapangan..

  3. abu salma:

    saya warga pundong. banyak mengucapkan terimakasih atas segala bantuan dan doa……. kami kini mulai bangkit untuk membangun pundong terimakasih

Leave a comment