Korban Calo Tiket
Ya, dalam arus balik lebaran kali ini saya “terpaksa” menjadikan diri sebagai korban calo. Loh kok mau jadi korban calo? bagaimana ceritanya? Begini saya ceritakan dulu latar belakang-nya, kenapa saya sampai membeli tiket Kereta Api Taksaka Malam atas nama Kelik, bertanggal 19 Oktober 2007 seharga Rp. 430.000,- yang harga normalnya adalah Rp. 320.000,-. Nah cerita perburuan tiket itu dimulai Selasa malam [16 Oktober 2007], ketika sedang reunian dengan teman-teman SMU, ada sebuah telpon dari BIG BOSS yang sedang mudik ke Semarang. Rencana awal saya akan balik ke Jakarta dengan beliau sekitar tanggal 20-an Oktober 2007. Nah, di seberang telpon BIG BOSS bilang kalau ada berita buruk, berita buruk untuk saya tersebut adalah mertua dari om Romi [BIG BOSS saya], akan ikut ke Jakarta, untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Palembang. Karena hal itu akhirnya tidak ada tempat lagi untuk saya, dalam mobil Escudo berwarna hitam itu. Saya sendiri tidak kaget mendengar berita tersebut, karena saya sudah sering mengalami perubahan drastis semacam ini.
Nah, ketika reunian sudah selesai, saya langsung berburu tiket. Tujuan awal adalah agen tiket pesawat terbang, di agen ini tinggal penerbangan hari Senin malam [22 Oktober 2007] yang bisa di booking, harganya relatif murah untuk ukuran arus balik lebaran, yaitu di harga Rp. 370.000,-. Hanya terpaut Rp. 50.000,- dari harga normal tiket Kereta Api Eksekutif, dan terpaut sekitar Rp. 70.000,- dari harga tiket Travel maupun Bis. Langsung saja saya booking tiket tersebut, selesai booking tiket saya sudah bisa bernafas lega, saya bisa segera balik ke Jakarta hari Senin malam.
Rabu pagi [17 Oktober 2007], saya memberitahukan ke salah satu atasan saya, bahwa saya akan balik ke Jakarta hari Senin malam. Nah ketika saya telpon beliau, dia minta bahwa hari Senin pagi, saya harus sudah di Jakarta, karena ada hal yang penting menyangkut pekerjaan. Ya, karena besarnya tanggung jawab saya dalam pekerjaan tersebut, akhirnya saya batalkan lagi tiket yang sudah saya booking tadi dan mencoba untuk mencari sarana transportasi lain.
Sampai Rabu malam, saya belum mendapatkan tiket yang sesuai dengan beberapa kekangan yang ada. Akhirnya pencarian tiket dilanjutkan pada hari Kamis pagi [18 Oktober 2007]. Pagi itu, saya bersama salah seorang teman baik saya, menuju ke Stasiun Tugu untuk mencoba keberuntungan, siapa tahu ada tiket kereta yang tersisa buat saya. Sampai di parkiran Stasiun Tugu saya sudah di tawari tiket oleh para calo, mereka memasang harga yang sangat tinggi yaitu Rp. 520.000,- lebih tinggi Rp. 200.000,- dari harga resmi dan tentu saja tawaran tiket yang semahal itu saya “cuekin”. Sampai di depan loket penjualan tiket, saya menanyakan apakah tiket Kereta Api Eksekutif jurusan Jakarta masih tersedia, dan mereka menjawab bahwa tiket Kereta Api Eksekutif sudah habis bahkan sampai hari Senin Pagi [22 Oktober 2007] dan hanya tinggal tiket berdiri [tidak mendapatkan tempat duduk dan snack]. Tentu saja saya tidak mau ditawari tiket berdiri, saya sendiri sudah pernah merasakan naik kereta api Eksekutif serasa naik kereta api Ekonomi dengan membeli tiket berdiri, seperti yang dia tawarkan.
Ketika ingin meninggalkan Stasiun, kami didatangi oleh seorang Polisi yang ternyata adalah rekan dari sahabat saya, singkat cerita setelah basa-basi sejenak dan mengetahui kesulitan kami, dia mengenalkan saya kepada seorang rekan-nya yang lain, dimana rekan-nya tersebut, tahu dimana saya bisa mendapatkan tiket dari calo dengan harga yang lumayan miring. Entah karena rekan dari rekan-nya sahabat saya itu atau memang karena harga pasaran minimum calo, akhirnya saya pesan tiket Kereta Api Taksaka Malam seharga Rp. 430.000,- [seperti tangkapan layar diatas]. Yah, sebenarnya masih lumayan mahal juga harga tiket tersebut bila dibandingkan dengan waktu saya mudik, dimana dengan Rp. 209.000,- saya sudah bisa mudik menggunakan pesawat, tapi bagaimana lagi, itu adalah opsi terbaik [saat itu] dibandingkan dengan beberapa pilihan yang ada, seperti naik Bis ataupun naik Travel, yang perjalanan-nya bisa memakan waktu lebih karena kemacetan lalu lintas.
Akhirnya saya balik ke Jakarta pada hari Jum’at [19 Oktober 2007] yang lalu, kereta meninggalkan Stasiun Tugu tepat pukul 20.00 WIB [baru kali ini saya mendapatkan jadwal KA yang berangkat tepat waktu] dan sampai di Stasiun Gambir hari Sabtu [20 Oktober 2007] kurang lebih pukul 06.20 WIB [telah kurang lebih 2 jam dari jadwal seharusnya]. Ya, itulah pengalaman pertama kali saya dalam arus mudik dan arus balik Lebaran yang baru saya rasakan pertama kali ini. Semoga saja pengalaman “dikerjai” calo seperti ini tidak terulang lagi. -amien-. O, iya buat para pembaca, pernahkan anda mendapatkan pengalaman “dikerjai” atau sengaja menjadi korban calo juga?
Category: Curhat, Kritik Sosial











poto neng random iku ganteng tenang ..
Saya belum pernah dikerjai calo, karena kebetulan hampir tidak pernah dalam kondisi yang sangat sibuk seperti masnya.
Tapi, kalau mau dikerjain calo, lumayan sering. Malah bisa dikatakan setiap nyari tiket di Tugu lewat pintu timur. Banyak sekali orang-orang (yang kayaknya sudah pasti calo) yang selalu pakai senjata pamungkas, “Tiket habis mas…”. Kalau saya balik tanya, pasti mereka “punya solusinya”.
Sialnya, jelas-jelas praktek percaloan dilarang… TAPI praktik percaloan jelas-jelas terjadi di depan loket resmi. Di depan petugas stasiun. Huh!
Eh, molor 2 jam? Saya dari Gambir naik Taksaka, berangkat on-time, sampe Jogja (katanya) dijadwalkan jam 04:30-an. Tapi baru sampe skitar jam 8 an. Hiks… Cukup ajaib kok memang urusan jadwal kereta api ini…
Salam kenal mas!
buad abud mah harusnya di bagasi azza… kereta kebagusan… wakakakaka
Mas Bahtiar,
Weh, foto yang mana tuh? Lebih gantengan aslinya kan om?
Mas Thomas,
Salam kenal juga mas, memang calo tuh menyebalkan sekali dan aneh-nya selalu aja praktek percaloan ini walaupun sudah banyak pihak yang bilang akan memberantasnya, dan saya pikir ada orang dalam juga yang ikut terlibat dalam praktek percaloan ini. CMIIW.
Soal jadwal kereta, saya sendiri belum pernah mengalami naik kereta api “on time” waktu berangkat dan tiba-nya. Kelas Eksekutif saja seperti itu, apalagi kelas Bisnis maupun Ekonomi yang bisa lebih telat lagi. CMIIW
Mas Rendy,
Lah, kemarin tiket bagasinya habis je :-p
Lha sudah jelas 15 libur, kok mau maunya disuruh masuk kantor?
aku buennnciiiiiiiii kr calo….
@pingkina : pacarmu mbiyen kan calo?
Lha om Alex bukannya mantan calo?
Mas Dedhi,
Loh bukan tanggal 15 lho masuknya, tapi tanggal 22 Oktober lho
Mbak Pinkina,
Hihihi, pasti kebanyakan orang juga benci profesi satu ini
Mas Pitik,
Loh, jadi dulu anda mantan calo?
*ngabur*
Mas Romi,
O, iya yang waktu itu om Romi jadi juragan calo-nya yah :-p
pingin crita apa nampang sih mass..????!!!!
critanya cuma gitu aja kan…enteng enteng aja..
HI, AKU LAGI MENCARI TRAVEL KE JOGJA , TAPI SAMPAI SEKARANG GA PUNYA INFO, AKU LIAT KAMU TAU TIKET TRAVEL… DO YOU HAVE ANY INFO NO TEL TRAVELNYA
^0^
TX
H’VE A NICE DAY
@wina,
loooh, itu kagak ada tampang saya kan? Hehehe…
@ANGELA,
Angela di Jakarta atau dimana ya?
Kalo liat di foto, orang disebelahmu itu calonya ya ..?