Modul Multi Tier Application

| September 27, 2006 | 33 Comments

Akhirnya salah satu tanggung jawab saya sebagai Asisten Praktikum Sistem Operasi dan Jaringan di Teknik Informatika – Universitas Atma Jaya Yogyakarta selesai juga. Dimana dalam praktikum tersebut saya bertanggung jawab untuk membuat modul tentang bagaimana membuat aplikasi multi tier dengan teknologi .NET

Praktikum ini sendiri terdiri atas 8 modul [ Linux, PHP, Desktop App dengan .NET, Multi Tier App dengan .NET, Java Desktop, Multi Tier App dengan Java, Windows 2003 dan Novel Netware ] untuk modul Multi Tier App dengan .NET yang saya buat ini sendiri bertujuan agar :

  1. Mahasiswa mampu membuat database dengan SQL Server 2005 Express Edition.
  2. Mahasiswa mampu membuat Stored Procedure sebagai business logic pada DBMS di SQL Server 2005 Express Editon.
  3. Mahasiswa mampu membuat aplikasi terdistribusi dengan mengunakan teknologi web service.
  4. Mahasiswa mampu membuat aplikasi web dengan menggunakan Visual Studio 2005 Profesional Edition yang memanfaatkan web service sebagai business logic-nya.
  5. Mahasiswa mampu membuat aplikasi mobile dengan menggunakan Visual Studio 2005 Profesional Edition yang memanfaatkan web service sebagai business logic-nya.

Karena sebagian besar mahasiswa belum pernah coding dengan C# dan belum pernah sama sekali pakai Visual Studio 2005 maka modul tersebut saya buat dengan banyak screen shoot dan dengan study kasus yang sangat mudah. dan tentu saja modul tersebut masih banyak membutuhkan masukan-masukan dari anda semua [ yang bisa anda berikan lewat komentar dibawah ini ]. O, iya untuk mendownload modul tersebut bisa lewat link dibawah ini :

Multi Tier Application With Visual Studio 2005

Category: Kuliah, Microsoft, Networking, Technology

About the Author ()

Comments (33)

Trackback URL | Comments RSS Feed

Sites That Link to this Post

  1. Maaf, Hanya Ini Yang Bisa Saya Lakukan at AlexBudiyanto.Web.ID | November 12, 2006
  1. IMW says:

    Hm.. koq agak aneh, praktikum Sistem Operasi malah belajar seperti ini. Biasanya sistem operasi ya belajar, struktur atau programming di tingkat sistem operasi (memory management, device driver, task management, struktur OS) dengan menggunakan beberapa OS kecil atau tool utk itu (Nachos, OSkit dsb).

    Untuk materi di atas lebih cocok utk pelajaran Enterprise Inforrmation System. Sebagai contoh di TU Braunscweig (maaf bahasa Jerman) http://www.ibr.cs.tu-bs.de/courses/ws0102/web/

  2. alex says:

    Saya sendiri juga heran kenapa namanya praktikum Sistem Operasi dan Jaringan di tempat saya kok hanya belajar tentang administrasi Sistem Operasinya saja ditambah dengan pengenalan beberapa teknologi menyangkut jaringan, tidak belajar tentang hal yang mas Made sebutkan diatas, dan hal ini sudah berlangsung sejak lama sebelum saya kuliah.
    Sebagai mahasiswa saya juga hanya bisa menuruti kemauan Dosen dan begitu pula saat saya jadi Asisten, karena tugas asisten juga atas mandat dari Dosen. Waktu saya dulu mengambil mata kuliah ini juga sempat protes karena waktu itu modul-nya ngak pernah diupdate dan banyak yang tidak menyangkut mata kuliah Sistem Operasinya sendiri. Hasil dari protes saya tersebut akhirnya semester berikutnya hampir semua modul berubah.
    Terima kasih sekali mas Made atas masukannya, nanti hal ini akan saya diskusikan dengan dosen saya.

  3. IMW says:

    Seperti yang sering saya uraikan di kolom saya, sering kali di bidang Teknik Informatika (atau yang terkait komputer) terjadi kesalah pahaman dalam mempelajari beberapa mata kuliah. Dorongan penguasaan ketrampilan praktis yang lagi diminati khalayak sering menjadikan beberapah hal penting dan mendasar tidak diberikan.

    Sebagai contoh kasus materi utama sistem operasi yang seperti saya sebutkan di atas (kalau mengacu ke kurikulum ACM isi mata kuliah Sistem Operasi seperti itulah), akan mudah tersingkirkan dengan memberikan ketrampilan seperti sistem administrasi ataupun pengetahuan produk teknologi yang sedang trend (Java, .NET, dsb).

    Kalau belajar OS ya minimal jenis-jenis arsitektur dan komponen beragam OS seperti yang sayat tulis di http://wiryana.pandu.org/?id=17 bisa dibahas.

  4. mca says:

    Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

    1. Pengunaan web service
    Modul ini tidak memberikan keterangan secara jelas kekurangan dari penggunaan web service. akibatnya bisa menimbulkan salah faham, bahwa web service adalah satu-satunya cara membuat aplikasi n-tier. Penggunaan web service untuk data retrieval juga kurang tepat, karena akan menurunkan performance sistem. Apalagi klien aplication adalah web apps yang masih tetap satu platform microsoft. Penggunaan web service menjadi overkill dan kurang tepat.

    2. Penggunaan dataset
    Retrieval data dengan dataset memakan banyak overhead, apalagi membungkusnya lagi denga web service. Ini bukan best practices, jika terjadi kelambatan akses maka disebabkan oleh kesalahan coding, bukan kesalahan .net :)

    3. Multi tier?
    Arsitektur yang dibuat baru sekedar 3-tier, dan belum bisa disebut multi tier atau ntier. Ini karena di data layer langsung menggunakan database, tanpa memanfaatkan data layer yang memanage berbagai operasi database. Jika di data layer menggunakan business entity, maka bisa disebut sebagai n-tier application.

  5. alex says:

    Mas Made,
    Terima kasih sekali lagi atas sarannya, hal ini akan segera saya teruskan kepada Dosen saya, semoga saja apa yang mas Made sarankan diatas bisa direalisasikan pada mata Kuliah yang menyangkut Sistem Operasi.
    Saya sendiri juga sangat ingin sekali bisa belajar tentang apa yang mas Made tuliskan dalam artikel tersebut diatas karena memang walaupun saya sejak awal kuliah sudah pakai Linux dan pernah jadi koordinator KSL-UAJY [Kelompok Study Linux - Universitas Atma Jaya Yogyakarta] tapi hanya belajar sebatas aplikasi yang berjalan diatasnya saja (Shell, DNS, Web Server, Mail Server dsb) belum pernah belajar sampai dalam bagaimana membuat kernel atau menambahkan code dalam kernel itu sendiri, paling mentok baru sampai kompilasi kernel :-(
    Maklumlah dengan banyaknya beban SKS [Indonesia kan paling banyak beban SKS-nya :-( ] dan aktifitas lain di beberapa komunitas yang lumayan memakan waktu [tapi membuat bahagia :-) ]sehingga saya belum sempat belajar bagaimana membuat sebuah sistem operasi sendiri atau minimal kernel sendiri, walaupun rasanya pingin sekali untuk melakukan hal tersebut.

    Mas Choirul,
    Terima kasih sekali, akhirnya sang Indonesian ASP.NET MVP memberikan komentarnya juga ;-)
    Dibawah ini tanggapan atas komentar mas diatas :
    1. Penggunaan Web Service
    Karena hal itu sudah mandat dari Dosen saya, yah saya sebagai Asistennya kan cuma bisa mengikuti apa kemuan dari BOSS ;-)

    2. Penggunaan Dataset
    Saya pakai DataSet karena dalam buku Pro ASP.NET 2.0 in C# 2005 karangannya Matthew MacDonald dan Mario Szpuszta yang diterbikan oleh Apress pada chapter 8 halaman 276 tertulis seperti dibawah ini :

    On the other hand, sometimes you might want to use ADO.NET\’s disconnected access model and the DataSet. Some of the scenario in which a DataSet is easier to use than a DataReader include the following :

    • When you need a convinient package to send the data to another component (for example if you are sharing information with the other component or distributing it to client through a web service).
    • When you need a convenient file format to serialize the data to disk (the DataSet include built-in functionality that allows you to save it to an XML file).
    • When you want to navigate backward and forward through a large amount of data. For example, you could use a DataSet to support a paged list control that shows a subset of information at a time. The DataReader, on the other hand, can move in only one direction forward
    • When you want to navigate among several different table. The DataSet can store all these tables, and information about the relations between them, thereby allowing you to create easy master-detail page without needing to query the databse more than once
    • When you want to use data binding with the user interface controls, you can use a DataReader for data binding but because the DataReader is a forward only cursor, you can not bind your data to multiple controls. You also won\’t have the ability to apply custom sorting and filtering criteria, like you can with the DataSet.
    • When you want to manipulate the data as XML
    • When you want to provide batch updates through a web service. For example, you might create a web service that allows a client to download a DataTable full of rows, make multiple changes, and then resubmit it later. At that point, the web service can apply all the changes in a single operation (assuming no conflicts occur).

    3. Multi tier?
    Kalau dari definisi Multi Tier Application yang saya baca di http://en.wikipedia.org/wiki/Three-tier_%28computing%29 apa yang saya buat dalam modul tersebut sudah bisa dikatakan Multi tier. Tapi tentu saja definisi ini bisa saja sangat subyektif ;-) .CMIIW

  6. Pradita Utama says:

    Hai semua,
    kalau di kampus saya Kuliah Sistem Operasi itu belajarnya emang bener2 sistem operasi sama apa yang terjadi di dalamnya kayak Round Robin, Preemptive dsb (saya udah lupa :D )

    By the way, thanks modulnya :D

  7. alex says:

    Mas Pradita,
    Untuk kuliah Sistem Operasinya sendiri kami juga belajar hal yang sama kok, misalnya saja tentang : manajemen memory, manajemen proses, menajemen device, manajemen file dsb, tapi untuk Praktikum Sistem Operasinya sendiri hal diatas belum pernah dipraktekan. Dalam praktikum tersebut modul yang menyangkut sistem operasi adalah Linux, Microsoft Windows 2003 dan Novel Netware dan disana kita hanya belajar bagaimana mengadministrasi sistem operasi tersebut.
    Soal modulnya saya sangat bahagia sekali bila apa yang saya tulis tersebut bisa bermanfaat bagi orang lain. So, terima kasih juga telah membuat saya bahagia dan semoga saja modul tersebut bisa bermanfaat :-)

  8. IMW says:

    Web service dan n-tier sebetulnya konsep dan tidak terkait dengan tipe aplikasi atau platform teknologi (apakah .NET atau Java). Bila ingin ke arah teoritis dari Web Services mungkin bisa sekalian ke phi-calculus dan sejenisnya (bila tertarik bisa saya perpanjang lagi ke arah teoritisnya he he he he). Begitu juga konsep n-tier sebetulnya tidak terkait dengan tipe komponen dan tipe aplikasi, lebih kepada model pembagian tugas dari suatu sistem secara global.

    Mungkin karena istilah 3-tier bangkit kembali akhir-akhir ini akibat Web Services dan sebagainya sehingga membuat orang terpaku pada jenis aplikasi tersebut. Tulisan saya (lama sekali) soal n-tier. http://wiryana.pandu.org/artikel/3_tier/. Ini sekitar tahun 1996-an saya tulis.

  9. alex says:

    Mas Made,
    Saya sepakat dengan anda bahwa Web Service dan n-tier tidak terkait dengan tipe aplikasi ataupun platform teknologi. Dalam modul yang saya buat tersebut kebetulan saya mengimplementasikan n-tier application [DBMS --> Stored Procedure --> Web Service --> Web application & Mobile application] dengan tools SQL Server 2005 serta Visual Studio 2005 dan tentu saja hal ini bisa dibuat dengan tools2 lain seperti Java, PHP untuk web service ataupun J2ME untuk mobile applicationnya.
    Dalam modul yang saya buat tersebut presentation-tier ada pada web application dan mobile application sedangkan sebagai midleware ada pada web service, untuk business processnya sendiri ada pada stored procedure dan sebagai Databasenya kebetulan saya pilih SQL Server 2005 Express Edition.
    O, iya mas saya dulu juga pernah buat aplikasi dengan teknologi RMI dari Java serta pernah belajar juga tentang CORBA yang diimplementasikan dengan Java. Menurut saya kedua teknologi diatas juga cukup menarik untuk dipelajari :-)
    BTW, untuk artikel 3-tier yang mas Made tulis juga sudah pernah saya baca lho ketika dosen saya memberikan tugas tentang arsitektur n-tier kurang lebih 3 semester lalu. So, terima kasih banyak ;-)

  10. IMW says:

    Mungkin yg kurang di-explore di Indonesia adalah dari sisi teoritis termasuk service coreograph, service orchestration dan aljabar yang menyertainya

  11. alex says:

    Mas Made,
    Kalau di tempat kuliah saya (Teknik Informatika) memang belum pernah mempelajari sisi teoritis dari apa yang mas made maksudkan dan setahu saya untuk jurusan Teknik Informatika tidak belajar mengenai pure science-nya tapi lebih dari penerapan atas teknologi tersebut. CMIIW

  12. IMW says:

    Seharusnya yang namanya Teknik Informatika (turunan dari Computer Science) harus lebih banyak belajar sisi science-nya (alias teori-nya). Berbeda kalau juruan SI (Sistem Informasi) yang lebih kepada penerapannnya. Ini kesalah-kaprahan yang sering terjadi di Indonesia. Jurusan TI (Teknik Informatika) minim sekali mempelajari hal teori tetapi terlalu ke hal praktis yang seharusnya menjadi “porsi” jurusan lain (mungkin faktor pasar yang lebih berbicara).

    Bisa dilihat bakuan jurusan dari ACM, antara perbedaan Computer Science, Information Technology, Computer Engineering, Information Science (atau Information System).

  13. Angela T Herdijatno says:

    Mas Alex,

    Terima kasih sekali telah mempublish materi pembuatan aplikasi multi-tier.

    Saya ada beberapa saran :

    - mungkin ke depannya Mas Alex bisa juga memasukkan penggunaan tool-tool yang tidak bersifat proprietary untuk membuat aplikasi multi-tier ini. Baik itu untuk database server maupun IDE-nya.

    Sekian saja saran dari saya.

    Terima kasih

  14. alex says:

    Mas Made,
    Terima kasih atas masukannya, coba nanti hal ini saya konfirmasikan ke dosen saya. Soalnya dulu salah satu dosen saya pernah bilang kalau di jurusan Teknik Informatika lebih ditekankan kepadan penerapannya tidak seperti jurusan Ilmu Komputer yang belajar ‘pure science’ nya. CMIIW dan mungkin benar juga bahwa kurikulum Teknik Informatika di Indonesia memang lebih banyak faktor ‘kebutuhan pasar’ yang menentukan. CMIIW

    Mbak Angela,
    Terima kasih atas masukannya. Perlu mbak Angela ketahui bahwa kebetulan saja untuk modul 4 yang saya tulis memang diharuskan memakai teknologi .NET dari microsoft begitupun juga dengan tools-nya tapi untuk modul lainnya ada juga lho yang pakai Java ataupun PHP.

  15. IMW says:

    Seperti yang saya tulis sebelumnya Teknik Informatika ini adalah nama lain dari Computer Science (di Eropa memang pakai nama Informatics, seperti di Jerman juga dan ini yang diadopsi Indonesia). Pada dasarnya di Indonesia mengadopsi 3 stream utama untuk penjurusan, yaitu Teknik Informatika (Computer Science), Management Informasi (Sistem Informasi nama barunya) ini adopsi dari jurusan Information Technology, lalu jurusan Teknik Komputer (nama baru Sistem Komputer) yang merupakan adopsi dari Computer Engineering.

    Jurusan Computer Engineering sering di”bingungkan” dengan jurusan Elektro peminatan komputer karena hampir mirip (TAPI BEDA). Jadi kalau melihat perkembangan jurusan tersebut, maka Teknik Informatika yang mengadopsi jurusan Informatik (nama Eropa) atau Computer Science (nama USA/UK) akan lebih banyak berkutet dengan teori dari komputasi itu sendiri, alias pure science-nya bidang komputer.

    Jadi kalau jurusan Teknologi Informasi (atau Sistem Informasi/manajemen informasi) berkutet dengan BAGAIMANA MENGGUNAKAN database engine, maka seharusnya jurusan Teknik Informatika (Computer Science) akan berkuet dengan BAGAIMANA MEMBUAT/BEKERJANYA database engine tersebut.

  16. mca says:

    hi Alex,

    Buku yg kamu baca tentang dataset tidak salah, tapi pemahamannya yang perlu diperjelas. Dalam aplikasi di modul yang kamu buat, sama sekali tidak meleverage kemampuan disconnected dr dataset. Aplikasi di modul tersebut hanya data retrieval read only, sehingga tidak akan mendapat keuntungan apapun dengan penggunaan dataset.

    Untuk operasi update, insert, delete, dalam konteks web apps akan lebih efisien menggunakan command object, daripada menggunakan dataset dan update via data adapter.

    Jika ingin menggunakan web service, cobalah menggunakan skenario yang sifatnya interoperability misalnya mengakses webservice .net dari php atau sebaliknya. Ini akan memberikan pemahaman lebih komprehensif dalam praktikum.

  17. alex says:

    Mas Made,
    Saya baru saja mengirimkan email ke dosen saya untuk meminta penjelasan tentang ‘status’ Teknik Informatika di tempat saya. Apakah Teknik Informatika tempat saya tersebut Computer Science ataukah Computer Engineering. Nanti kita tunggu penjelasan dari dosen saya tersebut biar saya tidak salah memberikan deskripsi. Tapi dari kesimpulan pribadi saya sendiri tempat kuliah saya tersebut lebih cenderung ke Computer Engineering.

    Mas Choirul,
    Terima kasih sekali masukannya, semoga hal ini bisa diperbaiki dimasa mendatang :-) dan sepertinya menarik juga jika nantinya praktikum Sistem Operasi dan Jaringan [setelah saya konfirmasikan dengan dosen saya ternyata praktikum ini memang ditujukan untuk mengenalkan sistem informasi Enterprise kepada mahasiswa cuma namanya saja yang mungkin masih belum pas dan untuk mengganti nama tersebut harus menunggu pergantian kurikulum berikutnya] lebih ditekankan kepada aplikasi lintas platform.

  18. IMW says:

    Kalau Computer Engineering (Teknik Komputer sekarang namanya Sistem Komputer), memiliki level bahasan di aras lebih rendah lagi (tapi tidak serendah aras yang digunakan oleh Jurusan Elektro bidang peminatan komputer).

    Computer Engineering akan memfokuskan pembahasan di aras bawah dari sistem operasi. Misal ttg driver, bios, real time os, instruction set design, verifikasi vhip, disain chip (misal dg FPGA, dsb). Jadi bisa dikatakan kalo secara layer, fokus bahasan (dari atas ke bawah : computer science, computer engineering, electronic engineering.

    Saat ini seharusnya kalau bicara praktikum Sistem Operasi dan Jaringan, akan lebih banyak membahas topik Concurrency (hehe hidup :-) Erlang http://www.erlang.org).

  19. alex says:

    Mas Made,
    Kemarin saya terlibat diskusi menarik dengan salah satu dosen saya menyangkut kurikulum yang dipakai ditempat kuliah saya berikut ‘status’-nya. Dari diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa Teknik Informatika – Univesitas Atma Jaya Yogyakarta tidak memakai kurikulum dari ACM tapi kurikulum lain [saya juga kurang jelas kurikulum mana yang dipakai], jadi definisi Teknik Informatika yang mas Made sebutkan berdasarkan kurikulum ACM tidak berlaku di tempat saya karena Kampus kami belum mampu untuk menerapkan kurikulum tersebut.
    Di tempat saya sendiri lebih condong ke Computer Engineering dengan 3 Konsentrasi peminatan yaitu : Relasi, Komputasi dan Jaringan dengan materi pembelajaran yang lebih ditekankan kepada kebutuhan pasar. CMIIW

  20. IMW says:

    Setahu saya kurikulum yang digunakan di Indonesia mengacu ke ACM (dan ini tidak beda jauh dengan yang di Eropa, dengan nama Teknik Informatika). Tahun 1995-an saya pernah ikutan di bagian kurikulum ujian negara utk PTS, dan dari masukan saat SRIG-PS setahu saya model dari Teknik Informatika mengacu ke Computer Science ala ACM. Bila memang menggunakan kurikulum lain, saya tertarik untuk mengetahui sumber acuan yang digunakannya.

    Sebaiknya kampus membedakan antara knowledge dan skill, terutama untuk mereka yang menawarkan tingkat S1. Kebetulan saya suka mengkoleksi kurilukum komputer dari tahun ke tahun dari 1979 hingga 2005. Perkembangan terbaru di kurikulum tahun 2005, banyak orang ingin mengembalikan menambahkan materi matematika dan teori ke Computer Science kembali, karena merasa ini adalah kekurangan yang ada pada pendidikan Computer Science saat ini. Bidang seperti Formal Method, Protocol Design, Security, Network Design membutuhkan pengetahuan dasar tersebut yang mau tidak mau mengembalikan ke kebutuhan teori tersebut.

    Tidak heran Microsoft pun merekrut “jago teori” seperti Lamport (pengembang TLA), Martin Abadi (calculus utk enkrpsi dan oop, yang sekarnag aktif di proyek Singularity) dsb. Dan kita cukup puas mempelajari hasil produk jadinya saja misal .NET .

    Sebetulnya masalah teori ilmu komputer, bukan apakah perlu teori itu diberikan, tetapi BAGAIMANA memberikan teori itu di kelas. Sehingga mahasiswa terasa manfaatnya dengan aplikasi “yang ada di pasar”. Sebagai contoh bila mengjara teori parser, atau teori language saja mungkin mahasiswa tidak tertarik tapi bila “diiming-imingi” dengan Language Workbench-nya Microsoft baru deh merasa ini “seperti” teknologi baru.

    Apa kita mau selalu terjebak ke trend baru yang sebetulnya hanya “bungkus” saja ?

  21. alex says:

    Mas Made,
    Terima kasih sekali atas masukannya, semoga saja hal ini bisa menjadi pertimbangan bagu para pengambil keputusan di tempat saya kuliah ataupun bagi Perguruan Tinggi yang lain untuk kemajuan pendidikan di negeri ini :-)
    Untuk ditempat kuliah saya, kurikulumnya saya sendiri kurang jelas diambil dari mana, tapi yang pasti kurikulum tersebut tidak mengacu ke ACM karena fasilitas ataupun sumber daya manusia-nya belum memungkinkan sehingga dibuat kurikulum yang lebih untuk memenuhi kebutuhan “pasar”. [ini cerita dari dosen saya lho]
    Hal ini tentunya sangat berbeda sekali dengan universitas yang ada di luar negeri, dimana sebuah perguruan tinggi bisa mendapatkan bantuan dana untuk melakukan penelitian dari pihak luar, sedangkan perguruan tinggi yang ada disini belum ada yang seperti itu sehingga itulah kenapa perguruan tinggi diluar negeri sana bisa sangat maju sekali di bidang penelitian [ini juga cerita dari dosen saya lho]. CMIIW
    Untuk masalah teori ilmu komputer saya juga sependapat dengan mas Made, karena saya pikir teori sangat penting sekali sebelum kita dapat mempraktekan teori tersebut, tapi pada kenyataannya banyak mahasiswa yang bingung ketika akan mengaplikasikan teori tersebut karena dosen juga tidak memberikan apa sih manfaat dari teori yang sudah diberikan dan untuk apa teori tersebut diberikan. CMIIW

  22. IMW says:

    Kebetulan saya di Jerman juga ngurusin pendanaan riset group dan administrasi. Di Luar negeri kondisi tidak “seindah” yang dibayangkan para dosen atau dicita-citakan atau diceritakan para dosen yang baru balik dari LN. Dana itu tidak turun dari langit :-) Banyak dosen Indonesia tidak mengalami menangani adminsitrasi riset group ketika mereka sedang studi di LN, dan mengalami sisi enaknya (yg handle administrasi orang lain he he he, jadi tinggal terima honor sebagai researcher).

    Justru itu salah satu kiat untuk mengatasi keterbatasan SDM dan dana di kampus LN adalah dengan melakukan explorasi sendiri atau mengembangkan tool dan materi ajar sendiri tanpa lari dari bakuan kurikulum (bakuan kurikulum ACM tidak mensyaratkan memakai PC atau hardware seperti apa). Di sinilah lahir tool seperti MINIX (Tannebaum), Nachos, OSSKit dsb.

    Mengajat basic theory tidak memutuhkan hardware tinggi, berbeda dengan kalau kampus ngotot mau ngajarin .NET, Java atau Cisco malah membutuhkan sumber daya hardware dan biaya yang lebih tinggi. Jadi kalau kampus bisa melakukan hal itu seharusnya memberikan materi seperti ilmu komputer di LN juga tidak masalah.

    Permasalahan utama di Indonesia adalah kita malas belajar yang benar, dan lebih suka permisif dengan alasan “kebutuhan pasar”. Bila negara seperti Nepal juruan teknik informatikan ya saja bisa mengembangkan sistem operasi, kenapa Indonesia tidak ?

  23. alex says:

    Mas Made,
    Saya sependapat sekali dengan apa yang mas utarakan diatas, tapi untuk tempat saya sendiri ada beberapa dosen juga gak mau repot dan ‘susah’ apalagi mahasiswanya. Dulu pernah waktu saya masih semangat sekali belajar linux beberapa lab saya install Linux dan mempengaruhi beberapa dosen untuk memakai gcc dan java di linux untuk beberapa mata kuliah pemrograman, tapi ternyata hal itu juga ngak bisa berjalan kerena mereka menganggap bahwa kompilasi dengan gcc dan java serta sistem operasi linux itu sendiri susah :-( demikian juga halnya ketika saya coba memperkenalkan open office mereka menggangap bahwa open office itu ‘ribet’ tidak semudah Microsoft Office dsb.
    Itulah susahnya jika kita sudah ‘terbius’ oleh hal-hal yang mudah sehingga kita susah sekali beralih ke hal lain yang mungkin hanya memerlukan pembiasaaan saja. Padahal sebenarnya kalau seorang dosen dengan tegas bilang ke mahasiswanya ‘kamu harus mengerjakan tugas tersebut di tools ini sistem operasi ini!’ maka mau tidak mau seorang mahasiswa akan dituntut untuk menguasai tools tersebut. Entah dimana yang salah dengan hal diatas ataukah itu juga salah satu alasan ‘kebutuhan pasar’ [hanya dosen saya yang bisa menjawabnya].

  24. IMW says:

    Salah satu yang mengherankan bagi saya ttg dosen-dosen juruan komputer di Indonesia adalha langkanya yang kenal aplikasi seperit LaTeX dan BibTeX :-) . padahal ini seperti standard utk dunia ilmiah.

    Begitu juga dengan tool-tool yang lazim digunakan di dunia pendidikan komputer, malah tidak dikenal di Indonesia. Hal ini disebabkan kecenderungan kita mempelajari/mengajari PRODUK TEKNOLOGI, bukan KONSEP TEKNOLOGI.

  25. alex says:

    Mas Made,
    Saya sependapat sekali karena emang jarang dosen di Indonesia yang pakai aplikasi tersebut [LaTeX] mungkin karena ‘susah’, tidak user friendly ataupun alasan-alasan ‘klise’ yang lain mungkin hal ini disebabkan karena mereka sudah tergantung pada sebuah tools yang lebih mudah [walaupun perlu dipertanyakan pula legalitasnya].
    Pakai tools yang ‘mirip’, legal dan bebas aja susah apalagi pakai tools seperti LaTeX yang butuh ‘effort’ lebih besar untuk bisa menggunakannya dengan baik :-)

  26. IMW says:

    Lebih mudah untuk menulis yg bukan paper :-) , jadi terbukti jarang nulis paper kekekkee

  27. alex says:

    Hhhmmmm, no comment :-) heheheh100x

  28. bsrd says:

    Mungkin lebih cocok, untuk mata kuliah “Sistem Terdistribusi”.

    Sebab, seingat saya dulu waktu kuliah OS, tugasnya suru bikin simulasi OS, pake C.

    Dan kalau untuk tugas-tugas yg n-tier seperti ini cenderung dari Sistem Terdistribusi.

    Gak tau kalo skarang udah berubah ;)

  29. Whisnu says:

    Bagaimana dengan n-tier di linux ada yg punya solusi paling efektif dan mudah

    THX

  30. akil says:

    Konsep multi tier-nya sih benar, tapi biasanya multi tier itu minimal di implementasikan pada 3 pc. 1 untuk data base os (mis: server 2000 data center),2 untuk deploy component (business rule) os (server 2000/2003), 3 untuk application layer bisa dalam bentuk thick client(desktop application) atau thin client(browser).

    untuk deploy component-nya biasanya menggunakan DCOM/COM+ pada server 2000/2003 (Microsoft Solution).

    anyway thanks 4 D’ article

  31. nitha says:

    punya tutorial Care2x tidak??
    kalau punya saya minta donk ..
    saya lagi butuh bgt nih ..
    maklum masih pemula ..
    tolong kirimkan tutorialnya ke alamat e-mail saya ..
    di tunggu ya mas,,
    segera ..
    makasih sebelumnya ..

  32. Himawan says:

    Terima kasih saya ucapkan untuk mas Alex atas link materi nya yang bermanfaat bagi saya.

    Karena sebagian dari materi tersebut akan menjadi bahan tambahan untuk materi mengajar saya.

Leave a Reply