TF-UAJY E-Learning System
Dari beberapa hari yang lalu Program Study Teknik Informatika – Universitas Atma Jaya Yogyakarta [TF-UAJY] meluncurkan Sistem E-Learning baru, dimana sistem pembelajaran elektronik yang baru tersebut bisa diakses lewat URL : http://kuliah.inf.uajy.ac.id. Sistem E-Learning ini dibangun menggunakan Moodle sebagai back end-nya, sistem yang sama juga digunakan oleh ITB maupun beberapa Universitas lain seperti MIPA-UGM, Matematika-UPI, Psikologi-Tarumanagara dsb.
Pemakaian sistem baru ini merupakan suatu kemajuan tersendiri bagi TF-UAJY maupun Fakultas Teknologi Industri – Universitas Atma Jaya Yogyakarta [FTI-UAJY] karena dari saya Kuliah di TF-UAJY [2003] sampai sekarang ini belum ada sistem di bawah FTI-UAJY yang seperti ini. Dulu setiap mata kuliah mempunyai web sendiri-sendiri [baik untuk TF-UAJY ataupun TI-UAJY] sehingga setiap mahasiswa harus menghafalkan kode dari mata kuliah yang diambil, tapi dengan sistem yang baru ini setiap mahasiswa cukup login ke http://kuliah.inf.uajy.ac.id/ untuk mendownload materi kuliah, melihat pengumuman ataupun mengumpulkan tugas.
Tapi tentu saja sistem yang baru ini tidak akan bisa berjalan baik apabila tidak ada respon yang baik dari Mahasiswa ataupun dari Dosen sendiri untuk menggunakan sistem ini. Saya masih ingat betul ketika saya masih mengadministrasi DNS, Mail Server maupun Web Server dibawah FTI-UAJY [TF-UAJY dan TI-UAJY] dimana waktu itu saya sudah membuat Forum Diskusi, Web Mail dan beberapa halaman web untuk subdomain dibawah fti.uajy.ac.id, inf.uajy.ac.id, ind.uajy.ac.id [bahkan setiap mahasiswa bisa membuat subdomain dibawah program studi dan hak akses di server untuk membuat web pribadi sendiri] tapi ternyata respon dari mahasiswa ataupun dosen tidak seperti apa yang diharapkan, sangat sedikit mahasiswa ataupun dosen yang mau menggunakan sistem tersebut. Itulah salah satu pengalaman pahit yang pernah saya rasakan dan saya berharap kejadian tersebut tidak akan terulang untuk sistem E-Learning yang baru ini.
Semoga saja sistem yang baru ini bisa berjalan dengan baik untuk meningkatkan kualitas pendidikan maupun pengajaran di TF-UAJY sehingga untuk kedepannya kualitas lulusan dari TF-UAJY khususnya maupun UAJY pada umumnya bisa semakin baik lagi. Akhir kata Majulah Pendidikan Indonesia!



IMW:
Setiap saya menyelenggarakan short course ttg eLearning, ada 3 buku yg saya jadikan bacaan wajib para peserta. Buku-buku tersebut memenuhi spektrum response terhadap eLearning. Buku tersebut :
Hightech heretic, oleh Clifford Stoll
On the internet, oleh Dreyfus
Designing world class eLearning. oleh Schank
Tapi buku tersebut bukan teknis pembuatan platform eLearning, lebih kepada konsep dan hal-hal yang perlu dipertimbangkan.
October 14, 2006, 1:50 pmfeha:
yah semoga saja kedua elemen (dosen dan mahasiswa) benar2 bisa mempergunakannya dengan baik.
October 14, 2006, 1:53 pmjujur saja SCELE di Fasilkom UI jenjang S1 sudah berjalan 2 tahun, tapi yah gitu2 ajah…..gak ada greget khusus dalam menggunakan.
bahkan masih ada ditemukan dosen yg belum pernah login ke dalam sistem
alex:
Mas Made,
Terima kasih atas masukannya semoga saja masukan tersebut diperhatikan oleh dosen-dosen saya
Mas Feha,
October 14, 2006, 3:13 pmMemang itulah yang sering menjadikan gagalnya penerapan sebuah sistem baru. Sistem sih bagus tapi budaya belum mendukung sehingga hanya sedikit yang mau mempergunakan sistem baru tersebut.
Untuk kasus diatas kadang-kadang hal ini diperparah lagi oleh beberapa dosen yang tidak mau repot belajar menggunakan sistem yang baru karena mereka sudah merasa nyaman dengan cara mengajar konvensional yang sudah mereka pakai selama ini. Begitu juga dengan mahasiswanya yang juga tidak merasa nyaman untuk sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.
Ada sebuah qoute menarik dari Charles Darwin seperti dibawah ini :
yudiwbs:
Koreksi sedikit, situs e-learning matematika UPI sekarang sudah dipindahkan ke
http://fpmipa.upi.edu/kuliah (sekarang mencakup seluruh fakultas).
Pengalaman saya menjadi admin Moodle di situs tersebut selama 2.5 tahun adalah faktor teknis hanya mencakup 20% sebagai penentu keberhasilan. 80%-nya adalah non teknis.
Faktor tersulit adalah mengajak dosen supaya mau ikut bergabung. Mahasiswa sih gampang, saat dosen memberikan tugas yang hanya dapat dikirimkan melalui e-learning mereka pasti bergabung. Lagipula jam terbang mahasiswa dalam menggunakan internet biasanya lebih tinggi dari dosen.
Waktu itu kami tetap gagal walaupun pihak fakultas telah mengadakan workshop bagi dosen selama 3 kali. Akhirnya fakultas memberikan insentif finansial bagi dosen yang mau menggunakan e-learning. Efeknya mulai terasa semester ini, lebih banyak dosen yang mau bergabung sekarang.
Masalah yang lain adalah media e-learning masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Masih banyak online course kami (termasuk punya saya) yang hanya berisi materi-materi tekstual saja (doc,pdf,ppt). Harusnya lebih banyak materi interaktif dan simulasi. Tapi memang untuk mengembangkan jenis materi tersebut dibutuhkan biaya dan waktu yang tinggi. Sebenarnya ada kelebihan e-learning lain yang relatif lebih mudah diimplementasikan yaitu forum diskusi online. Sangat bagus digunakan karena sistem pendidikan Indonesia menghambat siswa untuk bertanya dan menyampaikan pendapat. Dengan forum online, mahasiswa lebih bebas bertanya, dan diskusi lebih hidup.
October 14, 2006, 6:46 pmalex:
Mas Yudi,
btw saya setuju sekali atas pernyataan mas diatas karena kebetulan saya sendiri juga memang pernah merasakan bagitu susahnya membujuk dosen untuk mau menggunakan sebuah sistem baru yang saya bangun. Yah walaupun pada akhirnya ada beberapa dosen yang mau memakai sistem tersebut tapi jumlahnya juga tidak begitu menggembirakan.
October 14, 2006, 8:58 pmTerima kasih atas koreksinya. Koreksi tersebut sekaligus sebagai perbaikan atas tulisan saya diatas
Untuk penggunaan forum diskusi saya juga sangat setuju sekali karena hal tersebut memang sangat penting sekali, selain untuk bertanya dan menyampaikan pendapat forum diskusi juga akan menambah pengetahuan ataupun sebagai tempat aktualisasi diri. Pengalaman pribadi saya sendiri dari forum diskusi maupun mailing-list yang saya ikuti [di luar kampus] saya banyak mendapatkan pengetahuan baru yang tidak saya dapatkan di kampus, selain itu saya juga banyak sekali mendapatkan pengalaman dari media tersebut.
Tefa:
Yonkru neh TF sekarang…
October 14, 2006, 9:41 pmKan klo gini enak dilihat serta web nya lumayan berkelas, so klo ad temen dari univ laen liat web kita kan jadi interest…
Ya hitung-hitung buat saran promosi jg seh…
Keep spirit informatics UAJY…
Regards…
alex:
Tefa,
October 14, 2006, 10:38 pmSaya pikir tampilan disini bukan hal yang utama apalagi belum ada dosen atau mahasiswa yang mau membuat themes sendiri untuk Moodle tersebut. Saat ini themes tersebut masih buatan orang lain dengan sedikit perubahan saja [mungkin Tefa mau bantu membuat/mendesain Themes-nya?]. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakan sistem tersebut dengan baik, tampilan bagus tidak akan ada artinya jika tidak ada aktifitas didalamnya
yudiwbs:
Forum, selain untuk diskusi dapat juga digunakan untuk simulasi.
Ini yang pernah saya coba:
Pada kuliah basisdata (untuk jurusan matematika), mahasiswa diminta membuat sebuah tugas besar mengembangkan sebuah sistem informasi. Untuk membuat tugas besar tersebut saya sebagai dosen tidak memberikan spesifikasi rinci diawal kuliah. Saya membuat account baru, seorang client fiktif yang ceritanya berlokasi di luar kota sehingga hanya dapat berkomunikasi secara online. Mahasiswa memperoleh spesifikasi sistem informasi dengan cara mewawancari “client fiktif” tersebut (yang sebenarnya saya juga). “Client” tersebut juga menilai prototipe mahasiswa dari tahap awal sampai sistem informasinya jadi. Saya sebagai dosen, berperan sebagai moderator.
Keuntunggannya, mahasiswa mendapat pengalaman mengembangkan sistem informasi mirip seperti di dunia nyata, (semacam kerja praktek). Kemudian karena saya juga yang menjadi “client” sekaligus dosen, saya dapat mengatur tingkat kesulitan proyeknya. Mahasiswa juga mendapat pelajaran non teknis, seperti bagaimana menulis pesan yang sopan kepada client. Simulasi seperti ini sangat murah dan mudah (tinggal membuat account kedua saja) dan sulit disaingin dengan model kuliah di kelas.
Kerugiannya, butuh resource yang besar dari dosen. Seringkali harus login dengan dua account di dua browser. Jumlah posting juga jadi dobel. Contoh diskusi dapat dilihat di: http://fpmipa.upi.edu/kuliah/mod/forum/view.php?id=62
October 15, 2006, 3:06 amNama “Client”-nya: Muhammad Furqon
alex:
Mas Yudi,
tapi kok sepertinya baru sedikit yah mahasiswa yang berinteraksi di forum diskusi tersebut? atau jangan-jangan itu tugas kelompok sehingga yang aktif di forum diskusi tersebut hanya perwakilan kelompok saja? CMIIW
October 15, 2006, 3:45 amMenarik sekali melihat diskusi antar mahasiswa UPI dengan ‘Muhammad Furqon’ dari alamat diatas
Ivan:
Yup, perkataan mas alex ini benar sekali terutama mengenai mail server dan forum yang pernah dibuat di inf.uajy.ac.id.
October 15, 2006, 11:21 amsaya sendiri merasakan kalau yang ikut daftar di mail nya inf.uajy.ac.id hanya sedikit sekali. dan kalo mengenai forum-nya hanya buat dijadiin tempat protes-protes aja (saya sendiri pun punya pengalaman buruk di forum tersebut :p). Yah semoga dengan adanya e-learning tersebut kegiatan belajar-mengajar semakin lebih lancar dan semakin baik lagi. dan semoga server nya tidak bermasalah lagi… he he he he he…. peace :p
Viva TF UAJY….
alex:
Ivan,
October 15, 2006, 12:46 pmInformasi dari Pembantu Dekan I bahwa nantinya setiap mahasiswa akan mempunyai alamat email s1[angkatan][NIM]@[prodi].uajy.ac.id, alamat email yang aneh memang tapi dari hasil diskusi saya dengan Pembantu Dekan I, saya bisa memahami alasan pemakaian alamat tersebut.
Untuk masalah server-nya sendiri saya sudah merekomendasikan beberapa orang KSL-UAJY untuk menggantikan saya membantu mengadministrasi server-server tersebut dan sudah disetujui oleh beliau. Semoga saja untuk kedepannya tidak ada masalah lagi dengan server-server yang ada
yudiwbs:
Mas Alex, itu tugas individu bukan kelompok. Tapi memang mahasiswanya cuma sedikit, 7 orang. Matakuliahnya memang matakuliah pilihan.
Semakin besar kelas semakin tinggi tingkat kesulitannya. Karena bermain jadi dua orang dalam satu kepala kadang-kadang pusing juga
sering ketuker-tuker.
October 15, 2006, 3:19 pmalex:
Mas Yudi,
October 15, 2006, 6:46 pmTerima kasih atas konfirmasinya, sepertinya menarik sekali metode pembelajaran yang mas terapkan. Semoga saja nanti hasilnya sesuai apa yang mas harapkan dan sukses selalu buat mas Yudi
IMW:
Kalau kita membaca tahapan pembelajaran seperti yang dijabarkan Dreyfus (buku ini sangat bagus sekali walau tipis, kecil tapi isinya dalam sekali, dibaca berulang kali tetap ada hal baru yang muncul, Dreyfus seorang Prof Filsafat). Maka dalam tiap pembelajaran akan memiliki kebutuhan “perangkat bantu” yang berbeda. Apakah dibutuhkan materi tekstual seperti catatan, dan lain sebagainya, ataukan materi simulasi, atau malah yang lebih penting adalah peer-review (tanggaapan rekan sejawat).
Oleh karena itu sebelum beranjak memilih tool untuk implementasi eLearning tersebut, maka sebaiknya dari sisi diktatis sudah dilakukan persiapan yang matang terlebih dahulu. Bagaimana dg model simulasi seperti itu ? Saya menawarkan untuk sekalian menerapkan pola “action research” ?
October 16, 2006, 6:37 amalex:
Mas Made,
October 16, 2006, 7:08 pmSaya coba cari buku ‘On The Intenet’ karangannya Dreyfus tersebut di JOGJA belum ada, saya cuma dapat review buku tersebut dari : http://sll.stanford.edu/projects/tomprof/newtomprof/postings/403.html dan sepertinya isinya memang menarik
Untuk ‘Action Research’ yang mas Made maksudkan diatas saya kurang begitu paham, mungkin bisa diperjelas lagi ?
IMW:
Action Research itu artinya melibatkan langsung ke dunia nyata. Jadi alih-alih mahasiswa diminta mensimulasikan proses software development, mereka langsung membuat di dunia nyata. Jadi misalnya melakukan requirement analysis, langsung ke pihak yg mungkin akan membuat software.
Dan bukan pembuatan software saja, termasuk penyusunan manual (salah satu bagian dari pembuatan software yang sering terlupakan utk diajarkan).
October 17, 2006, 7:49 pmalex:
Mas Made,
October 19, 2006, 4:25 amSebuah usulan yang menarik sekali karena memang selama ini pola pembelajaran ditempat saya [TF-UAJY] lebih banyak mengambil kasus contoh yang sudah ada di buku, meskipun ada beberapa dosen yang mengambil contoh sesuai dengan pengalaman kerja di dunia nyata.
Biasanya kami baru mendapatkan pengalaman di dunia nyata pada waktu Kerja Praktek [KP] dimana dalam KP ini ada yang membuat sistem dari awal [requirement] meskipun ada juga yang hanya tinggal ‘code’ [terutama yang dapat tempat KP di Software House].
O, iya sekedar informasi bahwa ditempat saya kuliah dokumentasi pembuatan software sangat ketat sekali aturannya dan wajib dibuat, kami mendapatkan ilmu pembuatan dokumentasi ini dari mata kuliah Analisis Desain Sistem Perangkat Lunak [ADSPL] maupun Rekayasa Perangkat Lunak [RPL] kemudian untuk mengaplikasikan pembuatan dokumentasi tersebut ada pada mata kuliah Program Profesional [PP] dimana dalam mata kuliah ini kami diwajibkan membuat sebuah sistem informasi dari fase Analisis, Design hingga Implementasinya. Untuk dokumennya sendiri berupa Spesifikasi Kebutuhan Perangkat Lunak [SKPL], Deskripsi Pembangunan Perangkat Lunak [DPPL] dan Dokumen Pengujian Perangkat Lunak.
yudiwbs:
Saya pernah mengajar RPL Lanjut di sebuah universitas. Mereka diminta untuk mencari client yang sesungguhnya dan melakukan rekayasa perangkat lunak mulai dari requirement sampai testing.
Tapi masalahnya mungkin sama dengan KP. Yaitu adanya faktor client yang sulit dikontrol. Ada client yang bagus dengan proyek menantang, tapi tidak sedikit juga client yang asal-asalan dengan proyek yang terlalu mudah. Untuk mengatasi ini sebaiknya ada semacam seleksi client beserta proyeknya sebelum diberikan kepada mahasiswa.
October 26, 2006, 9:06 pmM. Fakhrurrazi:
Wah ketinggalan ngikutin topik ini kayanya. Tapi belum terlambat kayanya.
Saya punya ide untuk membuat sistem e-learning dengan model ecommerce c to c. Model ini mungkin diibaratkan seperti iklan baris gratis, yaitu pemasang iklan dan pencari barang bisa dengan bebas menggunakan fasilitasnya tanpa adanya campur tangan lagi dari pengelola jasa iklan baris gratis tersebut.
Model belajarnya seperti guru kungfu mencari muridnya atau murid mencari gurunya seperti cerita silat kho ping ho. Simurid kalo mau belajar dari salah satu guru bisa bayar atau bisa gratis, tergantung gurunya. Si guru kalo cari murid bisa meminta bayaran atau tidak tergantung keinginannya. Mungkin mirip-mirip juga seperti pengajaran Jedi di Starwars
Tujuannya antara lain:
* mencerdaskan kehidupan bangsa (he he he),
* memberikan kesempatan bagi murid cerdas untuk bertemu dengan suhu pilihannya,
* memberikan kesempatan bagi para guru untuk menyebarkan ilmunya dan mencari murid pilihannya, dan
* memberikan manfaat buat pengelolanya, dari iklan aja deh …
Bagusnya sih pake Dokeos (turunan claroline) dan bukan atutor atau moodle untuk softwarenya, karena kemudahannya untuk membuat kelas-kelas virtual (tempat latihan silatnya). Modalnya bisa gotong royong goban-goban. Jadi deh …
Gimana mas Alex siap nggak untuk jadi suhu atau nyari suhu yang setengah dewa. Atau mungkin juga jadi juragannya ???.
November 8, 2006, 1:21 amalex:
Mas Yudi,
Bagus sekali tuh idenya, jadi karena clientnnya sungguhan program hasil kerja mahasiswanya juga bisa dipakai beneran kan?
Mas M. Fakhrurrazi,
November 8, 2006, 4:18 amWah jangan-jangan ini juraganya Warta Blog yah? hehehehehe3x.
btw, Idenya saya pikir bagus sekali mas, kita tinggal eksekusi aja. Saya siap bantuin selama saya bisa
aku:
Kenapa e-learningnya industri gak bisa dibukaaaaa? saat ini jam 07:35am \kamis,18des’08
December 18, 2008, 7:34 am